Selasa, 22 Mei 2012. Ada yang berbeda dengan kampus ITB. Lapangan CC timur nampak dipenuhi dengan dekorasi ala betawi. Rupanya UKB-ITB memang sedang mengadakan “Pagelaran Kebudayaan Betawi 2012” di hari istimewa tersebut. Ondel-ondel yang berjalan-jalan di boulevard, menarik orang yang lewat unuk mampir ke pameran ataupun sekedar berfoto bersama.
Jika kita berkunjung ke stand pameran, kita akan menemukan makanan-makanan khas betawi sebut saja gado-gado, nasi uduk, bir pletok, roti buaya, tape-uli, kue kembang goyang, dan lain-lain. Selain itu ada juga stand permainan anak-anak betawi seperti taplak, loncat karet, gundu, pletokan, gasing, congklak, dan lainnya yang dapat dimainkan oleh pengunjung. “Melalui pameran ini kita jadi bernostalgia dengan makanan dan permainan khas Betawi yang sudah mulai langka saat ini, diharapkan masyarakat juga dapat lebih mengenal kebudayaan betawi, ” demikin penuturan Nadia (MT’08) selaku ketua panitia.
Selesai Pameran, mari beranjak ke GSG ITB. Sejak pukul 7 malam, telah nampak puluhan pengunjung yang memadati pintu masuk untuk membeli tiket nonton pementasan “Lenong si Pitung”. Lenong yang dimainkan langsung oleh mahasiswa ITB ini rupanya menjadi acara puncak dari pagelaran kebudayaan betawi 2012 yang paling ditunggu-tunggu pengunjung.
Pementasan dibuka dengan tari Topeng Gong, diiringi musik gambang kromong oleh grup sinar betawi dari jakarta. Selanjutnya MC sekaligus sutradara yang berpakaian khas “Abang” Jakarta, Fajar (GL’09), membuka pementasan tersebut.
Lenong si Pitung mengisahkan kisah masyarakat betawi pada zaman penjajahan kompeni (VOC). Diceritakan bahwa Pitung adalah seorang pemuda yang merasa gelisah dengan kondisi masyarakatnya yang terjajah oleh kompeni dan tuan tanah. Pitung dan sahabatnya, Dji’ih akhirnya memutuskan untuk melakukan perlawanan terhadap penindasan tersebut dengan merampok rumah para tuan tanah.
Lenong ini juga dibumbui dengan kisah cinta Pitung dan Aisye, aksi konyol opas-opas dan centeng pasar, kisah mencekam dari tuan Scout Heyne, dan semuanya diramu dalam alur cerita yang epik dan sangat menghibur.
“Walaupun banyak guyonan, cerita si Pitung ini sebenarnya sangat dekat dengan kita, mahasiswa. Kisah si Pitung mengingatkan kita bahwa sebagai seorang pemuda kita harus peka terhadap kondisi masyarakat dan tidak boleh segan menyingsingkan lengan baju untuk menolong sesama,” ujar Arbi (EP’09) selaku script writer.
Adegan-adegan dalam lenong semakin hidup dengan iringan musik gambang kromong yang dimainkan oleh mahasiswa/i ITB, dengan Bow(SI’08) selaku music director. Dalam pementasan ini turut tampil juga Tari Nandak Ganjen, serta grup marawis yang memainkan lagu “pengantin baru”.
Pementasan selesai pukul 22.30, ditutup dengan perkenalan pemain-pemain pagelaran serta foto bersama. Penonton juga dapat naik ke Panggung dan berfoto bersama para pemain pagelaran. Pementasan yang dihadiri tak kurang dari 900 orang penonton ini meraih sambutan yang luar biasa meriah.
dok-ukb