Diskusi Kabinet Bersama Rektorat Mengenai Konfirmasi Pembersihan Kampus

Pada hari Senin (5/09), dua orang perwakilan kabinet–Tizar Bijaksana (Ketua Kabinet) dan Devita Permanasari (Menteri Advokasi Kebijakan Kampus)–bertemu dengan pihak rektorat untuk melakukan diskusi terkait “pembersihan” kampus yang dilakukan pada tanggal hariKamis-Jumat (1-2/09) silam. Pertemuan dilakukan di Gedung Annex serta dihadiri oleh pihak Kabinet KM ITB, Ibu Irawati (Wakil Rektor bidang Sumberdaya dan Organisasi), Pak Harman (Kepala K3L), Pak Herto (Wakil Kepala K3L), Pak Wedyanto (Direktur Sarana Prasarana), Pak Brian Yuliarto (Kepala LK), Pak Aban (Koordinator Kamtibmas/K3L), Pak Ate (SP), Ibu Lina (SP), Pak Dedi (K3L), dan Pak Suharto (Kepala Kepegawaian). Pertemuan ini dilakukandengan tujuan mengkonfirmasi kejelasan dari kegiatan pembersihan yang dilakukan serta bertukar sudut pandang antara mahasiswa dan rektorat.

Menurut penjelasan dari Pak Harman dan Pak Wedyanto, pembersihan yang dilakukan bertujuan menciptakan kondisi kampus yang bersih dan tidak kumuh. Pembersihan kemarin merupakan tindak lanjut dari upaya-upaya sebelumnya, berupa peringatan-peringatan tertulis maupun tidak tertulis kepada seluruh elemen kampus.Menurut beliau, peringatan ini bahkan sudah dilakukan sejak tahun lalu, terutama kepada himpunan dan unit.Peringatan berupa teguran foto-foto yang disebarkan kepada pengurus himpunan dan unit maupun melalui interaksi langsung antara pengurus K3L atau Satpam dengan mahasiswa. Peringatan tentang kebersihan dan program bersih-bersih pundisampaikan pada awal semester ganjil 2011/2012 kepada mahasiswa melalui Dekan (untuk himpunan) dan LK (untuk unit). Meski demikian, tidak ada pernyataan dari K3L maupun SP yang mengkonfirmasi kepastian sudah sampai atau tidaknya pemberitahuan tersebut kepada mahasiswa saat pertemuan berlangsung. Menurut Pak Wedyanto, kekurangan dalam penyampaian informasi ini justru harus dibenahi oleh mahasiswa sendiri karena distorsi dan putusnya informasi terletak di internal mahasiswa. Kondisi pasca pembersihan bisa dibilang merupakan standar bersih yang diharapkan oleh K3L dan SP dalam keseharian kampus.

Dalam kegiatan pembersihan dilakukan pengambilan barang atau properti tertentu, dari berbagai tempat di kampus, yang dinilai tidak layak untuk ditempatkan di tempat-tempat asalnya. Barang-barang seperti logo himpunan dan perkakas yang masih layak pakai untuk sementara ditempatkan di gudang milik SP, sementara barang-barang yang tidak layak pakai, berbahaya, dan dianggap kumuh (bisa menjadi sumber penyakit) seperti kursi atau meja kotor, bambu-bambu bekas dan papan triplek ditempatkan di lapangan sebelah gedung BRT SP. Untuk barang yang ditempatkan di gudang, proses pengambilan kembali bisa diurus terlebih dahulu dengan memenuhi prosedur yang ditetapkan oleh SP. Meskipun begitu, WRSO, K3L, maupun SP berharap barang-barang yang ditempatkan di  lapangan BRT tidak diambil kembali karena dianggap sudah rusak dan kumuh.

Terkait sekretariat lembaga mahasiswa yang dibersihkan, K3L menyatakan bahwa tidak semua sekretariat dibersihkan.Beberapa himpunan/unit yang sekretariatnya memenuhi standar tidak dibersihkan oleh K3L.Pak Dedi menyatakan terima kasih kepada mahasiswa-mahasiswa yang sudah mengindahkan peringatan-peringatan sebelumnya dari K3L untuk mewujudkan kebersihan di kampus.

Sebagai mahasiswa ITB, kita tidak bisa memungkiri bahwa memang ada sebagian sekretariat himpunan/unit yang memang perlu dibersihkan dan gaya hidup yang  bersih dan sehat perlu diinisiasi di kampus kita. Kesempatan ini juga digunakan oleh para pengurus K3L dan SP untuk menyampaikan keluhan terkait penggunaan fasilitas kampus dan masalah sampah yang dihasilkan oleh mahasiswa. Menurut Pak Harman, ada beberapa sekretariat lembaga yang memasangfasilitas tambahan di sekitar sekretariat himpunan/unit di luar pengetahuan dekan atau LK. Bahkan, fasilitas tersebut dipasang di tempat yang tidak semestinya, seperti adanya dapur, papan wall-climbing, ring basket, dan tenda. Pengurus K3L dan SP mengharapkan agar fasilitas-fasilitas tersebut dipindahkan atau dihilangkan saja, karena pada dasarnya fasilitas-fasilitas tersebut sudah ada pada tempat yang seharusnya, seperti papanwall-climbing di Saraga dan ring basket di lapangan CC barat. Untuk fasilitas tenda atau bangku-bangku yang tidak pada tempatnya, akandiganti dengan bangku yang akan ditempatkan pada tempat-tempat semestinya.

Selain itu, SP menyampaikan keluhan terkait sampah, dimana mahasiswa diharapkan dapat lebih disiplin dalam membuang sampah pada tempatnya, terutama pasca acara-acara besar seperti wisuda, OSKM, dan sebagainya. Pak Ate, pengurus SP yang sebelumnya pernah menjadi pegawai salah satu fakultas di ITB, mengharapkan agar sampah-sampah pasca acara wisuda untuk dibersihkan dengan sebersih-bersihnya. Pengalamannya di salah satu fakultas menunjukkan bahwa hampir di setiap wisuda, himpunan-himpunan di fakultas tersebut tidak membersihkan sampah-sampahnya sehingga seringkali harus dibersihkan oleh Pak Ate dan rekan-rekannya.

Pada kesempatan ini, perwakilan kabinet telah menyampaikan kepada para peserta forum mengenai sudut pandang mahasiswa melihat pembersihan yang dilakukan kemarin.  Pada dasarnya, mayoritas mahasiswa merasa kaget dengan adanya pembersihan tersebut dan tidak ada kesepahaman antara mahasiswa dengan K3L dan SP mengenai standar kebersihan, keamanan, dan kesehatan yang seharusnya diberlakukan, sehingga pembersihan dari K3L menjadi sepihak. Menanggapi pernyataan ini, Pak Harman dan Pak Wedyanto berargumen bahwa peringatan tentang kebersihan sudah sering disampaikan kepada mahasiswa (lewat interaksi langsung ketika K3L keliling dan surat-surat yang diberikan pada dekan dan LK, misalnya) sehingga seharusnya mahasiswa tidak kaget dengan pembersihan.Standar kebersihan pun diasumsikan bahwa mahasiswa sudah tahu karena sudah pernah diingatkan berkali-kali, termasuk dengan metode foto-foto sekretariat yang diberikan pada seluruh dekan. Menanggapi tanggapan ini, perwakilan kabinet menegaskan bahwa meskipun Pak Harman mungkin sudah sering mengingatkan, namun distorsi informasi di tiap-tiap fakultas/sekolah, himpunan, dan unit mungkin besar sehingga tidak semua orang di ITB tahu peringatan kebersihan dan standar kebersihan yang ada. Apalagi jika peringatan disampaikan lintas generasi, peringatan mungkin bisa jadi tidak sama sekali tersampaikan.

Oleh karena itu, kabinet meminta kepada Pak Harman dan Pak Wedyanto untuk bisa bertemu langsung dengan perwakilan mahasiswa (setidaknya perwakilan dari ketua himpunan dan ketua unit) untuk menyampaikan secara langsung dan lugas mengenai visi ITB bersih dan aman menurut versi K3L dan SP. Kabinet juga meminta agar K3L dan SP membuat semacam modul mengenai standar kebersihan agar setiap civitas akademika memiliki pegangan yang jelas yang akan dibantu sosialisasinya oleh kabinet kepada mahasiswa ITB.

Selain meminta konfirmasi tentang kegiatan pembersihan, kabinet juga meminta adanya pelibatan yang lebih besar bagi mahasiswa di masa yang akan datang di dalam upaya-upaya pembersihan dan pengadaan fasilitas kampus. Mahasiswa—sebagai bagian civitas akademika ITB—perlu untuk dapat terlibat dalam mewujudkan kampus yang bersih dan sehat namun tetap bisa menjalankan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan dengan optimal. Aspirasi ini direspon oleh Ibu Irawati dengan membuka kesempatan bagi mahasiswa, perwakilan himpunan dan unit, untuk bisa bertemu dan berdiskusi langsung dengan “orang-orang lapangan” (K3L termasuk satpam, dan SP termasuk divisi2 dibawahnya) untuk mewujudkan hubungan yang sinergis dalam mewujudkan kebersihan. Pertemuan ini bisa diagendakan setiap 3 bulan agar interaksi yang dibangun bisa intensif dan berkelanjutan. Ibu Irawati juga tidak memungkiri bahwa akan ada pengadaan prasarana dan perabot baru bagi himpunan dan unit untuk mendukung kegiatan-kegiatannya. Meski demikian, usulan ini memang masih berstatus wacana yang belum jelas skemanya seperti apa dan belum juga dianggarkan.

Di akhir diskusi yang berlangsung kurang lebih 2 jam tersebut, Pak Suharto menyimpulkan bahwa memang ada kesenjangan informasi dan perbedaan persepsi antara mahasiswa dengan K3L dan SP, sehingga memang harus dipertemukan dan disamakan persepsinya. Namun beliau berharap tidak ada dikotomi mahasiswa dengan rektorat karena untuk urusan kebersihan seperti ini, kita semua adalah satu ITB.Pada kesempatan terpisah, Pak Brian Yuliarto mengusulkan agar kesempatan ini dimanfaatkan mahasiswa untuk mengajukan penganggaran pengadaan prasarana-prasarana yang vital seperti gudang.

Berangkat dari hasil diskusi tersebut, Kabinet KM ITB menyimpulkan beberapa poin dan tindak lanjut yang perlu menjadi perhatian, sebagai berikut:

  • Untuk pengambilan barang-barang yang ada di lapangan BRT, disarankan kepada lembaga, yang ingin mengambil dan kemudian menaruhnya kembali di tempat semula, agar membersihkan atau memperbaiki barang-barangnya agar tidak lagi dianggap kumuh seandainya ada pembersihan berikutnya dari K3L.
  • Kabinet akan mengadakan forum, mempertemukan perangkat2 WRSO (K3L dan SP) dengan perwakilan mahasiswa, pada hari Jumat 9 September 2011 (default). Keterangan lebih lanjut tentang waktu dan tempat akan diberitahukan kemudian. Forum ini bertujuan untuk mengklarifikasi masing-masing sudut pandang (mahasiswa & rektorat), menjembatani persepsi mahasiswa & rektorat, dan membangun kesepahaman tentang peran mahasiswa di dalam konteks penjagaan dan penggunaan lingkungan kampus. Forum ini mempersilakan baik mahasiswa maupun rektorat untuk menyampaikan evaluasi atas kebersihan dan program-program kebersihan yang ada di ITB bahkan kepada satu sama lain. Diharapkan agar setiap peserta forum bisa berpikir positif, terbuka, dan solutif.Diharapkan juga bahwa setelah forum ini, mahasiswa dan rektorat bisa mencapai kesepahaman tentang lingkungan kampus seperti apa yang hendak dicapai, dan jika masih ada urusan-urusan yang mengganjal (seperti pengembalian barang atau penggantian barang atau miskomunikasi mahasiswa-rektorat) bisa diselesaikan dengan cepat dan tidak berbelit-belit.
  • Karena program pengadaan prasarana dan perabot bagi kemahasiswaan masih berstatus wacana, maka pengadaan perabot baru paling cepat bisa dilaksanakan pada tahun 2012. Untuk bisa memastikan bahwa pengadaan tersebut dianggarkan, maka skema pengadaan harus sudah disusun mulai dari saat ini. Oleh karena itu nantinya Kabinet (dikoordinasikan oleh Kemenkoan Advokasi dan Kaderisasi) akan menginisiasi penyusunan skema ini, tentunya dengan dasar data dan informasi dari tiap himpunan dan unit mengenai kondisi lembaga dan kebutuhan fasilitasnya. Tidak hanya pengadaan perabot untuk sekretariat, namun usulan pemenuhan kebutuhan untuk prasarana umum seperti gudang mahasiswa, tempat sampah, dan fasilitas lainnya yang terkait juga sangat diharapkan untuk bisa memperkaya skema yang disusun.
  • Selain dari mengevaluasi kebijakan rektorat, lembaga-lembaga KM-ITB juga perlu mengevaluasi lembaganya masing-masing terkait kebersihan sekretariat dan tanggung jawab anggota lembaga akan kebersihan dan penggunaan fasilitas kampus. Penggunaan fasilitas atau pengadaan fasilitas yang tidak pada tempatnya atau melanggar peraturan ITB maupun fasilitas yang mengganggu kebersihan dan kenyamanan lingkungan sekitar sebaiknya segera dihentikan.Mahasiswa ITB tidak saja perlu memiliki integritas akademik dan waktu, namun juga integritas dan tanggung jawab dalam menggunakan fasilitas bersama.
  • Selain dari menunjukkan posisi dan bargaining position mahasiswa di depan rektorat, momen ini dan juga forum-forum yang akan diikuti mahasiswa dan rektorat akan menjadi pembuktian seberapa dewasa dan komunikatifnya rektorat selaku penentu kebijakan kepada mahasiswa. Metode-metode lain untuk menuntut kedewasaan rektorat untuk mendengarkan dan bernegosiasi dengan mahasiswa sehingga tercapai kesepakatan dan kesepahaman yang sama-sama menguntungkan, seandainya forum jumat tidak berhasil, tetap merupakan opsi yang bisa diambil oleh KM-ITB untuk mempertegas sikap dan posisi mahasiswa sebagai civitas akademika ITB. (KABINET/Tizar)

Share Your Thought!

Email kamu enggak bakal di publish, share apalagi kami jual. Fields yang wajib ditandai pake *