Masihkah ITB Untuk Semua?

Salam Ganesha!!

Pendidikan merupakan sektor yang sangat penting bagi kemajuan suatu bangsa, Pada sektor tersebut, dikembangkan pengetahuan dan moral manusia untuk menunjang perkembangan bangsa. Karena itu pula pendidikan merupakan hak yang harus diperoleh setiap warga negara. ITB sebagai salah satu institusi pendidikan harus mampu menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengembangkan pendidikan dan memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan. Untuk itu aksesibilitas ITB bagi masyarakat harus adil dan terbuka, terutama sistem penerimaan mahasiswa baru ITB. Penerimaan mahasiswa baru harus memenuhi prinsip adil dan tidak diskriminatif dengan tidak membedakan suku, agama, ras, umur kedudukan sosial, dan tingkat kemampuan ekonomi calon mahasiswa dengan tetap memperhatikan potensi dan kemampuan calon mahasiswa. Seorang lulusan ITB diharapkan mampu memberikan andil bagi kemajuan bangsanya diharapkan dengan  membangun kembali daerah asal mahasiswa tersebut, oleh karena itu ITB harus bisa diakses oleh masyarakat di daerah yang mempunyai kemampuan yang baik.

Pemerintah mengeluarkan kebijakan populis -PP no. 66 Tahun 2010- yang menggantikan UU BHP. Dalam kebijakan tersebut dinyatakan bahwa penerimaan mahasiswa baru yang dilakukan dengan pola penerimaan secara nasional minimal berjumlah 60% dari jumlah seluruh penerimaan mahasiswa serta minimal 20% dari jumlah penerimaan mahasiswa harus berasal dari kalangan ekonomi lemah. Namun, sistem penerimaan itu tidak dijelaskan secara lebih detil. Selain itu, permasalahan tanggung jawab pemerintah untuk pembiayaan Satuan Pendidikan Tinggi pun tidak diatur secara tegas.

Kejanggalan pada PP no. 66 Tahun 2010 menimbulkan  masalah penerimaan mahasiswa baru serta pembiayaan Satuan Pendidikan Tinggi menimbulkan polemik dalam penerimaan mahasiswa baru tahun 2011. Pihak Satuan Pendidikan Tinggi dibebankan dengan kondisi bahwa harus memenuhi segala aspek yang terkandung dalam peraturan yang diterbitkan pemerintah namun disisi lain pemerintah tidak menjamin pendanaan keberlangsungan proses pendidikan yang mencukupi untuk kegiatan keberlangsungan pendidikan. Akibatnya adalah biaya yang dibebankan kepada calon mahasiswa baru 2011 sangatlah tinggi.

Melihat proses penerimaan mahasiwa baru ITB tahun 2011 ini, timbul tanda tanya di kalangan mahasiswa dan masyarakat secara umum. Pada proses penerimaan ini calon mahasiswa yang kurang mampu akan  ditanggung biaya sepenuhnya, tentunya hal ini patut diapresiasi. Namun faktanya, belum ada informasi yang memadai terkait bantuan-bantuan bagi mahasiswa dari kalangan menengah. Kondisi ini pun diperparah dengan pemberitaan yang dilakukan oleh pihak rektorat ITB dengan mengedepankan wacana bahwa masuk ITB mahal. Dan bukan menyebarkan frame bahwa akan ada tanggungan bagi mahasiswa yang tidak mampu membayar biaya masuk yang mahal ini. Akhirnya terbentuk benteng psikologis yang membuat banyak pelajar dan orang tua takut untuk masuk ITB. Ditambah lagi dengan pelajar yang berasal dari daerah yang sulit mendapatkan informasi terkait penerimaan mahasiswa ini serta informasi bantuan pembiayaan dan keringanan ini.

Berdasarkan permasalahan-permasalahan tersebut, maka Keluarga Mahasiswa ITB mengeluarkan poin tuntutan sebagai berikut :

1.       ITB wajib mengklarifikasi alasan pengambilan kebijakan beban biaya yang diterima oleh mahasiswa 2011 dan memperjelas syarat-syarat agar calon mahasiswa 2011 mendapatkan keringanan beban biaya sesuai dengan tingkat ekonominya.

2.       ITB wajib melakukan penerimaan mahasiswa baru berdasarkan prestasi akademik dan mengedepankan pemberitaan mengenai adanya keringanan biaya pendidikan.

3.       Pemerintah harus memprioritaskan peningkatan pembiayaan Pendidikan Tinggi bukan kemudian membebankan sebagian besar pembiayaan kepada pihak  Satuan Pendidikan Tinggi.

Demikan pernyataan sikap kami sebagi bentuk kepedulian KM ITB terhadap permasalahan bangsa.

Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater.

Merdeka!

Bandung, 25 Februari 2011

Presiden KM ITB

Herry Dharmawan

Contact Person : Hasbi Ash Shiddiqi (085294806503) h.a.shiddiqi@gmail.com

2 thoughts on “Masihkah ITB Untuk Semua?”

Saya lucu kadang melihat ‘pemikiran’ yang terlalu terkotak kepada paradigma ‘Rakyat Kecil’, ‘Rakyat Miskin’ atau apalah itu.

Orang di ITB sering mengeluh ‘Masuk ITB kok mahal ya?’. Sering disebut quota 20 juta-45 juta itu mahal.

saya ingin menggelitik disini sebenarnya kepada pola berpikir orang kebanyakan (mnrut analisis saya emg mayoritas org). Apakah tidak rela mengeluarkan gocek Rp20jt-Rp 45 jt untuk menyekolahkan anak !?

Sekarang saya tanya,
1. Mobil anda harga nya berapa !?
2. Motor anda harganya berapa !?
3. Rumah anda harganya berapa !?
4. Gadget anda yang touch screen, bluetooth atau bla-bla itu harganya berapa !?

Kita selalu mengeluh, saat diminta Rp.20 jt-Rp40 jt utk mengenyam pendidikan, tapi sadarkah kita, expense yang kita keluarkan di luar PENDIDIKAN itu sudah berapa !?

Jadi pertanyaan saya, PENDIDIKAN ITU PRIORITAS KEBERAPA DALAM KEUANGAN ANDA !?

Jika memang memiliki harapan akan pentingnya sebuah pendidikan, coba refleksikan kembali hal ini. Sudah kah anda menghitung,
Motor/Mobil + HP + Laptop + Jajan + Jalan2

Bukan permasalahkan BERAPA biaya pendidikan, tetapi HOW MUCH YOUR WILLINGNESS TO PAY AN EDUCATION !!!

Lucu melihat orang, beli Gadget terbaru tapi membeli sebuah Buku Original Rp.300 rbu dibilang MAHAL. What’s !? Apa saya tidak salah dengar !? Ya tidak, itu realita kita

Ya ga sanggup bayar pendidikan utk UPDATE GADGET TERBARU atau BELI MOTOR atau TABUNGAN LUAR NEGERI, ya gausah kuliah !! Hiduplah bersenang-senang !!

Gausah munafik deh, sekarang saya tanya, ada ga anak NELAYAN di ITB !? Ada ga ANAK BURUH di ITB !? Ada ga yang ibunya jadi TKW !?

Kalaupun ada, sebutkan prosentasenya. Sedikit sekali kan ? Atau jangan lah ambil ITB, ambil SMA favorit di Indonesia, SMAN 8 Jakarta atau SMAN 3 Bdg atau apa lagi. Ada tidak anak2 dengan profesi orang tau seperti di atas ? Kalaupun ada jrang sekali bukan !?

Makanya, menurut saya, Pendidikan di Indonesia itu bukan salah di Universitas aja, udah dari sononya, TK-SD-SMP-SMA yang nikmatin pendidikan bagus yang orang punya duit. Merubahnya ? Saya jg blum temukan jawaban

Paling tidak kesimpulan saya
1. Kalau memang kita cukup mampu, ya sisakan sedikit properti kita untuk membayar pendidikan
2. Ingatlah selalu nilai pendidikan itu PRIORITAS KEBERAPA ?
3. Jujur pada Diri Sendiri & Orang Lain

Ingat selalu akan Willingness to Pay kita terhadap pendidikan. Berhubung kita masih punya BUKU KOPIAN di sini, kalau emg smua BUKU ASLI BAGAIMANA !? Protes lagi ? Ingat dong akan prioritas kita. Dimana ada sebuah keinginan di situ harus ada sebuah PENGORBANAN

Jangan sampai kita tidak mau Berkorban untuk pendidikan sementara untuk hal yang lain kita tidak sungkan2 merogoh kocek. Ini ITB bung, berpikirlah luas. Selalu pertimbangkan banyak hal sebelum buat ISU, bosen orang ngeliat hal2 tentang “rakyat miskin’, ‘ITB untuk smua’ atau apalah itu

Jangan sampai ini menjadi sebuah SOSIALISME bagi si KAYA & KAPITALISME bagi si Miskin.

Prinsip2 ini mulai tercium loh di kampus kita. Ya seperti kata saya tadi, pasti smua siswa di sekolah ternama orang yang berpunya. Sebutlah nilai kotor Rp.50 juta pasti ada di tabungan orang tuanya.

Nah, kalo tidak dihitung dengan cermat, Biaya pendidikan murah smua (Kuliah Khususnya), Ya itulah yang terjadi

Si KAYA smakin KAYA, si MISKIN smakin MISKIN

Karena itu tadi, dari kita kecil juga ga anak RAKYAT KECIL dapat pendidikan bagus ! Sadari hal itu kawan !!

Saya juga mahasiswa ITB, saya netral loh, tidak memihak rektorat atau apa. Saya cuma membberi sebuah alternatif pemikiran

PS : Jangan nilai suatu tulisan dari ‘Proses’ nya (hal ini mungkin ke cara penyampaian, maaf ga ada ekspresi lain) tapi perhatikannlah seksama ‘INTI’ nya

Salam Sejahtera

    Saya setuju pendapat anda kalau sistem pembayaran kuliah di ITB sama dengan kampus-kampus ala USA: “biaya pendidikan dibayarkan setelah lulus kuliah, dan dicicil selama 20-30 tahun”.

Share Your Thought!

Email kamu enggak bakal di publish, share apalagi kami jual. Fields yang wajib ditandai pake *