Masuk itb itu MURAH!

Sistem penerimaan mahasiswa-baru (maba) tahun 2011 di ITB menuai banyak pertanyaan dan tentu saja, keluhan. Bagaimana tidak, sekilas dari sekian banyak informasi yang diuraikan dalam situs penginformasian (http://usm.itb.ac.id/) mekanisme pendaftaran dan pembiayaan, ada salah satu poin yang seolah menjadi perhatian utama para pembaca –besar BPPM (Biaya Penyelenggarakan Pendidikan yang dibayar di Muka) yang dituliskan sebesar Rp 55juta. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan seputar jalur undangan: latar belakang, efektivitas, mekanisme penyeleksian, dan sebagainya.

Sedikit curhat, bagi siswa yang memang berasal dari keluarga yang benar-benar tidak mampu bahkan penghasilan orang tua di bawah UMR, mungkin hal itu tidak memberikan efek yang begitu besar. Karena baik besar BPPM dua tahun yang lalu maupun BPPM sekarang yang hampir dua kali lipatnya, sama saja tidak mampu membayar kecuali dengan beasiswa. Jadi, beasiswalah yang menjadi targetnya tanpa memperdulikan besar BPPM tersebut.

Lalu bagaimana dengan siswa yang berasal dari keluarga ‘pas-pasan?’ bagaimana nasib siswa yang berasal dari daerah namun tidak termasuk siswa dari kalangan tidak mampu? Teman-teman, ITB sebenarnya telah mempertimbangkan kekhawatiran tersebut.

100% SNMPTN: undangan dan tertulis

Berdasarkan Permendiknas no. 34 tahun 2010 Perguruan Tinggi wajib menerima paling sedikit 60% mahasiswa baru melalui pola penerimaan mahasiswa baru secara nasional (SNMPTN). Pada pasal berikutnya tertulis bahwa pola penerimaan tersebut dilaksanakan melalui ujian tertulis dan/atau undangan berdasarkan penjaringan prestasi akademik. ITB sendiri menentukan bahwa penerimaan mahasiswa baru tahun 2011 akan dilaksanakan 100% melalui jalur SNMPTN dengan komposisi 60% melalui jalur undangan dan 40% melalui tes tertulis dan/atau keterampilan. Artinya, ITB tidak lagi mengadakan Ujian mandiri (PMBP ITB).

Kritik dan keluhan beberapa kali terdengar baik melalui berbagai media mengenai penerimaan melalui jalur undangan ini. beberapa diantaranya mengkhawatirkan kualitas mahasiswa ITB tidak terjamin karena tidak ada tes, atau mengkhawatirkan siswa cerdas yang menempuh pendidikan bukan di sekolah yang berakreditasi sehingga tidak mendapat undangan. Mengenai hal ini, perlu diluruskan bahwa pada mekanismenya, bukan ITB yang mengundang sekolah tertentu untuk mendaftarkan siswanya mengikuti penyeleksian melalui jalur undangan, tetapi semua sekolah diberi kesempatan untuk mendaftarkan siswanya yang berprestasi sebanyak-banyaknya sesuai ketentuan berikut:

Akreditasi A (Aksel) : 100% terbaik di kelas

Akreditasi A (RSBI/Unggulan) : 75% terbaik di kelas

Akreditasi A (reguler) : 50% terbaik di kelas

Akreditasi B (reguler) : 25% terbaik di kelas

Akreditasi C (reguler) : 10% terbaik di kelas

Melihat ketentuan di atas, ITB telah berusaha memberikan porsi dengan adil dengan fleksibilitas persentase. Sekolah dengan tingkat persaingan lebih tinggi tentu diberikan persentase lebih besar. Walaupun pada pelaksanaannya ITB mempersilakan pihak sekolah untuk mendaftarkan lebih banyak siswanya dengan metode perankingan berdasarkan mata pelajaran yang disertakan dalam Ujian Nasional. Sayangnya, sampai saat penulis menerima informasi dari Kasubdit Penjaringan Mahasiswa (16/02/2011), dari jumlah 17.000 SMA di Indonesia, baru sekitar 500 SMA yang telah mendaftar untuk mengikuti SNMPTN jalur undangan ke ITB. kalau mengaku peduli, saya rasa di sini lah seharusnya kita berperan: memberikan informasi dan persuasi kepada –palingtidak—SMA-SMA di daerah asal agar mendaftarkan dirinya di jalur undangan, sebelum 12 Maret 2011.

Dengan adanya jalur undangan ini, diharapkan ITB dapat mensupport pelaksanaan keterpaduan pelaksanaan pendidikan secara horisontal (dari sabang-Merauke). Bagaimana hal tersebut dapat terjadi? Kita sadari bersama bahwa peminat ujian masuk ITB mayoritas merupakan siswa yang berasal dari daerah perkotaan, terutama dari sekolah-sekolah favorite di kotanya. Berdasarkan pengalaman penulis, tidak banyak siswa daerah yang –bahkan—percaya diri untuk mendaftar. Baik karena masalah kapasitas akademik maupun keuangan.

Kita tidak pernah tahu bahwa seseorang yang biasa-biasa saja dalam mengerjakan soal tes mungkin saja memiliki potensi yang sama atau bahkan lebih besar dari oang yang terampil dan lulus dalam mengerjakan soal tes karena telah terlatih dalam menghadapi soal-soal sejenis, mendapat support lebih besar dan memiliki waktu belajar yang lebih banyak. Sementara seorang yang lain mendapat pendidikan yang biasa-biasa saja –kalau tidak bisa dikatakan seadanya–, harus berusaha membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga, dan jarang sekali menemukan soal sejenis itu. melalui jalur ini, kemendiknas mencoba bertindak lebih bijak dengan memberikan kesempatan melalui jalur undangan di mana para siswa dapat bersaing sesuai tingkatannya dengan mempertimbangkan prestasinya di SMA. Selain itu, dalam penyeleksiannya, diterima tidaknya mahasiswa melalui seleksi jalur undangan ini ditentukan oleh ITB dan bukan oleh Panitia Nasional. Dalam hal ini ITB bisa menggunakan kriteria tambahan lainnya disamping prestasi akademik, yang oleh ITB dianggap baik dan bermanfaat untuk masyarakat secara holistik, seperti pertimbangan kebutuhan daerah, kawasan tertinggal dll.nya.  (Hasanuddin Z. Abidin: 2010)

Jadi, saya kira tidak ada yang harus dikhawatirkan dengan adanya jalur undangan ini. tentunya pembuatan sistem ini telah mempertimbangkan berbagai hal termasuk kriteria calon mahasiswa yang dapat diterima. Terkait dengan kecurangan yang mungkin terjadi, panitia telah menetapkan untuk memberikan hukuman berupa pelarangan (blacklist) mengikuti SNMPTN ke perguruan tinggi manapun selama 2 tahun.

Biaya Pendidikan yang dibayar di Muka

Ini dia yang membawa kekhawatiran dan ketakutan yang besar. Pernyataan yang disampaikan ITB di situs penerimaan mahasiswa baru mungkin terdengar agak menakutkan dengan adanya kewajiban membaya BPPM sebesar minimal Rp 55 juta. Ternyata, aturannya tidak sesaklek itu, teman-teman. Ada banyak kesempatan untuk mahasiswa baru mendapatkan subsidi. ITB sendiri memiliki target dari 100% mahasiswa baru baik melalui jalur undangan maupun tes tertulis, minimal 20% mendapatkan kursi gratis alias dibebaskan dari BPPM dan BPPS, minimal 40% mendapat subsidi yang bervariasi antar 25%, 50% atau 75%, sedangkan 40% sisanya diharapkan dapat membayar BPPM lebih besar samadengan Rp55jt. tentu saja angka-angka tersebut merupakan hasil perhitungan berdasarkan data. Saya sendiri yakin, banyak dari calon mahasiswa nanti yang benar-benar mampu untuk membayar lebih besar dari Rp 55juta. Dengan adanya sistem penyesuaian BPPM berdasarkan keadaan ekonomi ini, diharapkan akan mewujudkan sistem pembayaran yang berkeadilan sehingga biaya masuk ITB bisa tetap terjangkau oleh semua kalangan.

Kriteria seperti apa yang berhak masuk ketiga kategori di atas memang belum ada kepastian, namun pendaftar dibebaskan mengisi form kesediaan membayar BPPM sesuai kemampuannya. (Dalam formulir kesediaan membayar BPPM, tertera ketiga pilihan di atas) Hanya saja paling tidak pendaftar mengisi pilihan sebesar 10% penghasilannya perbulan selama 2 tahun. Jika demikian, penghasilan di bawah Rp 5juta berarti  masih diperbolehkan untuk mendapatkan subsidi sebesar 75%. Yang pasti, setelah diterima di ITB, pendaftar akan dimintai beberapa berkas yang diperlukan sebagai bahan pertimbangan termasuk jumlah tanggungan keluarga walaupun besar gaji sama akan menjadi bahan pertimbangan ke depannya.

Pertanyaan selanjutnya yang mungkin muncul di benak teman-teman adalah: “dari mana ITB akan mendapatkan uang sebanyak itu untuk mensubsidi?”. SKD ITB mungkin perlu bekerja lebih keras untuk ini.  kita berdo’a dan ikut mengawasi sajalah, jangan sampai kebutuhan dana yang besar menimbulkan dampak negatif terhadap kualitas ITB, tentunya dengan tetap mengupayakan adanya gerakan yang membantu teman-teman mahasiswa lain menuntaskan masalah pembiayaan kuliah. Mungkin teman-teman dari tim beasiswa telah memulai upayanya melalui GLB. Saya rasa sistem ini sudah baik. tinggal pelaksanaannya. Kalau perlu, kita ikut serta melakukan pengawasan dengan memerhatikan kesejahteraan KM ITB ke depannya.

Beasiswa BIDIK MISI

Peminat beasiswa bidik misi (biaya kuliah+biaya hidup) dapat mendaftarkan diri ke sekolahnya masing-masing. Untuk selanjutnya kepala sekolah mendaftarkan siswa tersebut sebagai calon penerima beasiswa bidikmisi. Setelah pendaftar tersebut diterima barulah berkas-berkas yang diperlukan –jika ada—akan diminta. Begitu pula dengan beasiswa lain yang diselenggarakan oleh ITB.

Sebagaimana telah diutarakan di atas bahwa ITB menargetkan minimal 20% mahasiswa baru dibebaskan dari biaya kuliah, yang rencananya akan didapat melalui jalur undangan. Namun, apabila ternyata melalui jalur undangan ini jumlah mahasiswa yang berhak masih di bawah 20%, ITB masih membuka kesempatan melalui jalur tes tertulis.

Lalu apa yang dapat kita lakukan terkait isu ini?

Banyak siswa yang mungkin menjadi takut dengan besar BPPM yang disyaratkan ITB. Namun kita bisa meyakinkan mereka bahwa ada banyak beasiswa di ITB, dan selalu ada tempat untuk orang-orang yang mau berusaha mendapatkan apa yang dicitakan. Jangan perbesar image “MAHAL” nya, tapi tonjolkan bahwa mereka –adik-adik kita—bisa berkuliah di ITB dengan  segala potensi yang dimilikinya, termasuk taraf ekonominya. Biarlah protes kita akan biaya yang mahal –yang sebenarnya ditargetkan untuk mahasiswa dengan taraf ekonomi tertentu—hanya didengar pihak rektorat atau sesama mahasiswa saja. Namun perdengarkanlah kepada adik-adik kita segala kelebihan ITB, tentang cita-cita besarnya, tentang prestasi yang akan kita buat di kampus ini maupun di masyarakat, dan sebuah janji bahwa tidak akan ada mahasiswa yang DO karena permasalahan ekonomi. Karena kita akan selalu ada untuk kita. Dan bahwa rektorat juga manusia.

Sumber:

-          wawancara dengan Kasubdit Penjaringan Mahasiswa

-          Keterangan Wakil Rektor bidang Komunikasi, Kemitraan, dan Alumni

-          Itb.ac.id/usm-itb

Regards,

Karissa Mayangsunda Philomela – 15309008

bius 2009 / penkesma km itb 1011

45 thoughts on “Masuk itb itu MURAH!”

    coba lihat situs http://usm.itb.ac.id lihat informasi tentang jalur masuk SNMPTN undangan. alhamdulillah udah jelas kok.
    tapi ada yang mesti diperhatikan. bahwa persepsi jalur undangan itu bukan lah ITB yang mengundang SMA (dan sederajat) untuk masuk ke ITB. melainkan pihak SMA lah yang “mengundang” siswa nya untuk mendaftar ke ITB. jadi,pihak SMA lah yang wajib mendaftarkan sebanyak-banyaknya siswa nya ke ITB. nah,berarti pihak SMA lah yang harus punya inisiatih lebih. kira-kira seperti itu :)

cukup lega melihat ada berita yang bisa meluruskan rumor yang selama ini beredar. saya juga sejak lama yakin kalau tidak mungkin biaya masuk ITB akan ditetapkan Rp. 55 juta dengan sangat kaku.
berita ini harus disebarkan lebih luas dari berita biaya mahal masuk ITB sebelumnya, karena sayangnya berita tentang mahalnya ITB itu sudah tersebar sangat luas di masyarakat dan lebih sayangnya lagi itu yang masyarakat percayai.
tapi, semoga saja benar bahwa jika nanti adik-adik SMA telah masuk ITB, permasalahan uang kuliah yang mau tidak mau memang mahal untuk pendidikan tinggi yang berkualitas tidak mengganjal saat perkuliahan.

saya ingin menyebarkan berita ini ke adik saya yang masih SMA dan teman-temannya. Mereka semua menjadi skeptis dan rame-rame merubah pilihan kuliahnya dari ITB menjadi univ. lain karena berita yang lalu kalau biaya masuk ITB sangat mahal dan harus dibayar di muka.
namun, untuk berita yang ingin disebarkan ke masyarakat umum, terutama anak-anak SMA, menurut saya kata-kata dalam berita ini terlalu berat dan susah dimengerti.
mohon untuk KM ITB untuk menyebarkan berita yang bisa lebih tidak berat dan mudah dipahami secara umum, dan yang lebih penting berita mengenai biaya masuk ITB bisa dikompensasi dengan ada beasiswa yang bisa hingga 100% ini harus disebarkan seluas-luasnya. masyarakat menjadi takut untuk masuk ITB sekarang karena mahalnya ITB.

0 juta = kecuali benar2 miskin, orang tua tidak ada pekerjaan, dll.

25% * 55 juta = 13juta >>>> 2,5juta di tahun2 lalu. Mana bisa pegawai kecil dengan gaji 500rb-1jt bayar segitu.

Emang benar kalo gak punya uang, jangan masuk ITB. =_=

    terimakasih. yuk bagi temen-temen yang lain juga ikut menyebarkan berita positif tentang masuk ITB. agar supaya pendidikan tidak menjadi barang yang eksklusif.

‘yakin banyak yang mampu membayar 55jt’? kalau mahasiswa sih ga berani meyakini, tapi di indonesia memang banyak sih yang mampu.

pertanyaan saya adalah, mengharapkan 40% mahasiswa mau membayar 55jt adalah konyol. mana ada orang mau membayar mahal kalau bisa membayar murah?

kecuali, semoga saja tidak, mereka yang membayar 55jt mendapatkan ‘kompensasi’

    saya sih berharap yang terbaik untuk ITB untuk Indonesia. bukan berharap juga bahwa semua yang masuk adalah golongan ekonomi atas. pun tidak berharap juga semua yang masuk adalah golongan ekonomi bawah. tapi harusnya pendidikan itu milik semua rakyat Indonesia. tidak ada akses yang ditutup bagi semua kalangan. agar supaya kampus kita menjadi tempat untuk menempa para pemuda yang nantinya akan memberikan sumbangsih yang besar untuk negara kita tercinta Indonesia.

Saya pernah merasakan bahwa GAMPANG sekali mendapatkan beasiswa di ITB, terutama beasiswa untuk keluarga yg kurang/tidak mampu.
Yakin lah kalo adik2 mau masuk ITB dengan kondisi ekonomi yang serba kekurangan pasti bisa kuliah bahkan bisa sampe LULUS wisuda (berdasarkan pengalaman melihat teman2 saya waktu kuliah di ITB, ada yg anaknya petani, anaknya tukang sampah, anaknya pengangguran, dll).
Tapi banyak juga sih yg anaknya orang kaya yg orang tuanya rela membayar 500 juta untuk sumbangan dana pendidikannya (karena ikut USM)
Nah dengan penjelasan di blog ini diatas saya rasa sudah menjawab keresahan masyarakat tentang kuliah di ITB.
“Raihlah cita-citamu setinggi langit, kalo ada kemauan pasti ada jalan”

Salam,
PN05 / Mantan Penkesma

melihat dari kalimat ini

“Jika demikian, penghasilan di bawah Rp 5juta berarti masih diperbolehkan untuk
mendapatkan subsidi sebesar 75%.”

kalo yang gaji ortunya di bawah 2 juta cem awak gimana? jelas2 kalo gaji segitu mah kagak bisa ngambil surat keterangan tidak mampu untuk mendapatkan beasiswa dan masuk golongan tidak mampu. paling banter berarti saya dapet beasiswa subsidi sebesar 75% kan?

75% dari 55 juta berarti saya mendapat diskon 41,25 juta. sehingga saya mesti membayar 13,75 juta untuk membayar BPPM!!!!

buset dah, gaji ortu cuma 2 juta mesti bayar segitu banyak buat biaya minimal masuk?

kecenderungannya selama saya kuliah disini beasiswa untuk kalangan menengah sangat jarang ada. kalopun ada paling cuma PPA. tapi apa cukup untuk membiayai semua kegiatan perkuliahan saya,BPP,kos,dll?

jadi harusnya disini ditulis kalo itb hanya peduli kepada mahasiswa yang sangat mampu dan sangat tidak mampu saja.

padahal jelas2 mayoritas anak itb adalah kalangan menengah! jangan mikirin yang ga mampu aja lah, pikirin kalangan menengah juga!!

yang ga mampu bisa dapet beasiswa, yang sangat mampu bisa bayar. nah kalo kalangan menengah? mau ngambil beasiswa ekonomi ga bisa, mo bayarpun ga mampu. jadi terpaksa mesti ngutang dulu.

berharap calon putra putri terbaik bangsa ga takut masuk ITB,,smoga info ini kesebar merata,,bkan cm ‘yg pengen tau’ yg tau info ini,,tapi jg mereka ‘yg ga pengen tau’..

wah emang segampang itu dapat beasiswa?

padahal tahun2 sebelumnya ga semahal itu.

mahal sekali masuk itb.kuliah di german atau france aja murah2.
bahkan ga sampai 10juta masuknya.

55juta itu bukan uang yang sedikit.
orangtua kita butuh perjuangan untuk uang segitu banyaknya.

masuk itb berarti untuk orang2 yang punya uang saja.
ayo terus jaya itb meskipun biaya mahal.

sebenarnya sih ga perlu pusing, orang masuk itb itu gampang kok. catatan, selama bisa bayar, itu aja. dan hal yang sama juga ditemukan di kampus lain, bisa bayar ayo masuk.

mau kedokter, tinggal nyiapin dana 100juta ke atas.
mau masuk itb, yah separohnyapun jadi.

sehingga kesimpulannya adalah, kuliah buat orang yang hidupnya berkecukupan atau lebih. yang ga kaya, sok SMPTN, or buat yang ga mampu, masukin beasiswa ke segala tempat. gampang.

Kakak2 ITB saya punya rencana ikut SNMPTN jalur tulis di ITB, ngambil jurusan SBM melalui bsw 100% gratis BPPM dan BPPS. SBM itu jalurnya IPS kan? Sama kayak FSRD ya? Mau tanya berhubung tahun ini baru ada prodi IPS yang di SNMPTN kan, tahu tips jitu biar lolos ujiannya ndak? Pastinya sih lebih berat buat teman2 yang ngajuin BSA full. Tapi aku yakin bisa, belajar materi IPS, dan coba ikut bimbel gratis, pengennya sih di GO, tapi gak tahu juga bisa bayarnya gak. Doain ya akang-akang moga diterima dan ketemu teman2 di kampus luar biasa itu

aslmk.
Bisa minta pencerahan?
bagaimana lapangan pekerjaan lulusan ITB?meski tidak resmi?apakah ada kerjasama dengan pihak yang membutuhkan tenaga kerja? sukron

    wlkmslm. bismillah, luruskan niat mau ngapain masuk ITB, mau ngapain belajar di ITB. insya Allah banyak jalan sebelum dan sesudah di ITB. lapangan pekerjaan mah banyak. yang penting nanti bagaimana kita bisa berperan untuk bangsa dan negara, tidak hanya sekedar menghabiskan lapangan pekerjaan saja tetapi membuat lapangan pekerjaan yang luas bagi rakyat banyak.terimakasih..

    setyo w. elektro

saya siswa kelas XII yang berminat untuk mendaftar ke ITB…
saya sudah mengikuti jalur undangan, hanya saja waktu itu ada pengumuman pendaftaran bidik misi, tapi karena kecacatan berkas keluarga saya tidak bisa mendaftar (sayang sekali memang, saya pun sangat menyesalinya…)
tapi di ITB ada beasiswa lain kan selain bidik misi? mudah-mudahan saya bisa masuk ITB tanpa mengkhawatirkan masalah biaya…

Baru saja saya membaca tulisan sebuah kawan, terimakasih banyak sudah menginspirasi. Ini saya copas biar teman-teman bisa membaca juga :)

Saya mempunyai cerita seorang kawan yang baik untuk kita sharing. Teman saya mengatakan ada aturan mendasar yang harus kita pahami, yaitu cara berfikir orang miskin, bagaimana orang tidak berpunya memandang kehidupan. Kita tidak pernah memahami, jika tidak pernah mengalami, meskipun 1000 buku teori kemiskinan kita baca. Sama persis ketika kita tidak bisa memahami pikiran seorang gayus, atau koruptor lain yang meskipun naik haji 7 kali tetapi di sela-selanya masih tetap melakukan korupsi.

Kawan ini mempunyai keyakinan pendidikan tinggi merupakan gunting untuk memutus rantai kemiskinan keluarga, dan tentu saja gunting terbaik di negeri ini, salah satunya di dapat dari pendidikan di jalan ganesha 10. Saya menjadi lebih memahami keyakinan itu setelah membaca email kisah Pak Angki.

Bila kita perhatikan, ternyata dibalik kemandirian PTN yang mahal itu ada satu ironi bahwa jumlah penerima beasiswa tidak memenuhi kuota. Kita bisa baca di beberapa media dan blog. Kenyataan ini sejalan dengan pendapat Pak Natal, Kecenderungannya org miskin pasti takut masuk ITB karena liat uang masuknya yg begitu mahal buat mereka. Disinilah ternyata masalahnya, kembali pada aturan cara berfikir orang miskin.

Apakah anda pernah tahu tukang becak masuk ke restoran mewah, meskipun ditulis ada diskon untuk makanan tertentu. Tidak, karena orang miskin telah membentuk realitas dalam pikirannya bahwa itu bukan kelasnya. Tetapi bila ada penumpang becak kaya, yang memberikan informasi, bimbingan dan dukungan, anak tukang becak itu mungkin akan berani untuk sekedar bertanya menu di restoran. Dan tukang becak itupun akan bisa membeli makan untuk keluarga di restoran mewah itu, karena memang ada makanan yang tersedia dengan harga diskon. Fungsi ‘penumpang becak’ itulah yg ingin dijalankan oleh kawan saya. Memberikan informasi, bimbingan dan dukungan pada orang agar berani masuk ITB, pada kasus orang miskin, informasi beasiswa kuliah gratis itu yang ingin dia tekankan.

Yang dia lakukan adalah mencetak (nge-print) informasi pendaftaran beasiswa ITB dari web ITB, kemudian dikirimkan ke SMA-nya di kampung. Setelah itu dia menelepon sekolahnya dan singkat kata menyediakan diri sebagai “pusat informasi”. Perlu di catat, kawan ini TIDAK menyediakan diri sebagai ORANG TUA ASUH, dia tidak menyukai konsep bantuan semacam itu, karena menurutnya hanya akan menciptakan debitor kebaikan seumur hidup. Yang dia lakukan adalah meneruskan informasi.

Tentu kita mungkin sedikit heran, bukankah di era internet informasi semacam itu mudah diakses oleh semua orang, termasuk sekolah di kampung. Ingat pada cara berfikir orang miskin dan informasi diskon makanan di restoran mewah di atas. Singkat kata tahun lalu ada dua orang anak petani yang nekad mendaftar beasiswa bidik misi dan nekad juga pergi ke bandung tanpa memberi tahu orang tuanya untuk ikut test. Dan ternyata masuk ITB. Belakangan menurut kedua anak ini, kertas pengumuman hasil print-print-an kawan saya itu yang menjadi titik baliknya. Hingga sekarang di kamar kostnya, email pengumuman diterima beasiswa di ITB itu dipasang di kamarnya, betapa bagi anak itu masuk ITB adalah mimpi terliarnya yang menjadi kenyataan. Bagi orang tuanya, mungkin perasaannya akan sama dengan orang tua Pak Angki 32 tahun lalu.

Jadi pesan kawan saya, bila kita hendak membantu mengatasi dua masalah besar di atas, mulailah dengan telepon. Teleponlah sekolah SMA anda dulu, kalau kebetulan SMA anda adalah SMA kaya di kota, alihkan telepon anda ke SMA di daerah-daerah yang anda kenal. Beri semangat pada mereka, berikan nomor telepon Anda. Kawan saya menambahkan, jangan menunggu koordinasi, membentuk panitia dll, nanti keburu api lilin semangat masuk ITB padam. Lakukan sekarang. Hanya satu telepon saja ke sekolah.

Bila nanti banyak anak miskin yang daftar dan jumlah beasiswa habis bagaimana? Jangan khawatir saya yakin kita punya banyak Pak Angki tua, (maaf Pak Angki, saya sebut ‘tua’), yang saya yakin pasti siap membantu angki-angki muda lain mewujudkan impiannya. Meminjam email pak Angki,Saya berkeyakinan intan berlian itu bukan hanya di toko permata di mall-mall. Yang kita harus temukan adalah bahan baku intan ini untuk kita asah dan kita bentuk. Intan-intan ini ada dimasyrakat miskin kebanyakannya.

Yuk konkrit!!

yaap sepakat sama laksito. yuuk konkrit. mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang!! jika masing-masing dari kita menginformasikan ke almamater sma temen – temen, betapa dahsyatnya informasi ini akan sampai. yuk konkrit!!

Luar biasa sekali tulisan dan komentar dari Laksito, bener2 ngubah mindset sy. Sy salah satu peserta snmptn undangan ITB, tp sy g akn trlalu memaksa msk itb. Semoga yg msk itb bener2 berlian yg dapat berkontribusi buat Indonesia.

asslamu’alaikum
mau nanya ka.. saya siswa kelas XII,, saya udah ikut snmptn jalur undangan
saya ngambil itb.. alhamdulillah saya dapet di itb..
yang jadi permasalahannya keluarga say itu keluarga yang biasa2 aja(pas2an)
nah keluarga saya ga sanggup ngebiayain saya kuliah di itb,, apalagi sampai bayar 55jt, udah nyerah duluan.
pertanyaan saya
1. trus subsidi yang 100% hanya untuk kalangan tidak mampu?
2. kalo kita ngajuin subsidi 100% terus ga dapet (padahal udah bayar matrikulasi 2jt-itukan gede bangat saya aja belum pernah megang-) berarti kita tetep bayar 55jt atau dialihkan ke subsidi yang 75% ?
3. nah BPPS=5jt itu udah termasuk sks belom?
4. apakah bisa biaya matrikulasi di bayar habis tanggal 30 mei?
5. jika kita ngajuin subsidi itu udah pasti di terima ngga sih?

mohon di jawab ya kaka semua
soalnya kalo ga dapet beasiswa atau subsidi keluarga saya ga mampu
makasih

Kesimpulan :
1. BPPM untuk non beasiswa minimal 13,5jt.
2. BPPS untuk non beasiswa non SBM = 5jt.

Saya merasa ada golongan yang belum tersentuh yaitu yang orangtua/walinya berpenghasilan sedikit di atas UMR (tidak memenuhi syarat pengajuan beasiswa) tapi pas-pasan.

Mohon dipertimbangkan lagi.
Terima kasih

Assalamu’alaikum
Saya dari Jurusan IPS kak, tapi pengen banget masuk jurusan Tekhnik Kebumian ITB, kira2 bisa gak ya ?
Modalnya saya sertifikat KSM Nasional sama tekad aja
Soalnya ITB saya denger sarangnya anak2 IPA yang hebat, nah saya dari IPS bisa bersaing gak ya kak ?
Terus cara persiapannya harus kayak gimana ?
Jawab ya kak :) Makasih
Semoga saya bisa jadi adik kelas kakak #ngarep ;)

Share Your Tought!

Email kamu enggak bakal di publish, share apalagi kami jual. Fields yang wajib ditandai pake *