SPESIAL HARI PAHLAWAN: Pahlawan Adalah Kita!

“Meskipun kamu mendapat latihan jasmani yang sehebat-hebatnya, tidak akan berguna jika kamu mempunyai sifat menyerah! Kepandaian yang bagaimanapun tingginya, tidak ada gunanya jika orang itu mempunyai sifat menyerah!”

“Jendral!! Turunkan tanganmu! Apa yang kau hormati siang dan malam itu?! Apa karena mereka di depanmu itu memakai roda empat?!!” dengan nada sedih ia kembali berkata “Tidak semua dari mereka pantas kau hormati! Turunkan tanganmu jendral!!”.

Kutipan pertama milik Jendral Besar Soedirman yang tanpa lelah bergriliya untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Kutipan kedua adalah kemarahan tokoh Naga Bonar dalam film Naga Bonar 2 yang melihat patung Jendral Soedirman. Jendral Soedirman dan Naga Bonar adalah dua tokoh pahlawan yang berbeda latar belakang. Jendral Soedirman dilahirkan pada tanggal 24 Januari 1916, pada gejolak penjajahan Jepang. Besar dalam lingkungan perjuangan, membuat Soedirman muda begitu cepat mengerti makna kemerdekaan, makna perjuangan. Soedirman mendapat gelar jendral pada usia yang sangat muda, 31 tahun.

Naga Bonar adalah tokoh fiktif yang dilahirkan Almarhum Asrul Sani pada tahun 1986. Tokoh pahlawan jenaka, namun cerdas dan penuh semangat. Tercipta oleh situasi generasi 80-an yang banyak berjuang melawan rezim orde  baru lewat sastra dan seni. Tokoh Naga Bonar yang diperankan oleh Deddy Mizwar begitu terkenal seakan-akan Naga Bonar adalah pahlawan nasional yang benar-benar ada. Mungkin tidak secara fisik, namun Naga Bonar berhasil mewakili kepahlawanan para pejuang kemerdekaan.

Tokoh pahlawan dengan dua latar berbeda namun memiliki dua kesamaan. Pertama, kepahlawanan sederhana. Jendral Soedirman berjuang sebagai tentara segenap jiwa melindungi bangsa Indonesia, bahkan saat beliau sakit, perjuangan tak berhenti. Ditandu dan bergriliya menjadi rasa kehidupannya. Sungguh kepahlawanan yang sederhana, berbuat semaksimal mungkin. “Hero is a man who does what he can”. Naga Bonar berjuang membela pribumi dengan semangat sosial, dalam film maupun pesan yang keluar kepada masyarakat. Menggendong seorang Ibu sambil berjuang membela Indonesia. Sungguh sederhana, menyatukan cinta tanpa harus berkorban.

Kesamaan berikutnya adalah dua tokoh tersebut dibentuk oleh masyarakat. Jendral Soedirman yang dibentuk oleh gejolak penjajahan Jepang dan Naga Bonar yang dibentuk oleh gejolak rezim orde baru. Pahlawan bukan  hanya terbentuk oleh kapasitas diri, tapi lebih kepada situasi di masyarakat. Indonesia masa kini adalah Indonesia yang rindu akan tokoh-tokoh kepahlawanan, Indonesia yang haus semangat perjuangan.

Setiap tanggal 10 November kita peringati hari pahlawan, mengenang 66 tahun silam pertempuran Surabaya lewat siluet semangat Bung Tomo mengusur penjajah. Bukan hanya prosesi atau sekedar hari peringatan. Seperti layaknya patung Jendral Soedirman, hari pahlawan diperingati untuk membuat kita sadar pahlawan masih diperlukan. Pahlawan bukan hanya sekedar sejarah yang tertulis di buku-buku, pahlawan adalah manusia-manusia di sekitar kita, atau diri kita sendiri yang lahir untuk orang lain.

Indonesia merindukan kita, para calon pahlawan yang hidup berarti membawa manfaat. Jika kita perhatikan foto-foto pahlawan, maka kita akan melihat wajah para pemuda. Pemuda-pemuda yang tak sampai dua minggu lalu kita peringati sumpahnya. Sekali lagi apakah hanya akan menjadi peringatan? Jika kita sendiri bisa melakukannya.

Hero made by society. Maka jika kita tidak bisa menjadi pahlawan, cukup dengan semangat untuk menjadi pahlwan, member manfaat bagi orang lain walaupun kecil, maka kita telah menjadi pahlawan. Kita, pemuda-pemuda sebagai generasi terdepan bangsa ini. Para pemuda yang dulu mengusir Belanda, para pemuda yang dulu mengusir Jepang, para pemuda yang dulu membinasakan penindasan, para pemuda yang dulu bermimpi kemerdekaan.

“Turunkan tanganmu Jendral”. Karena kami belum mampu menjadi seperti dirimu, karena kami belum layak kau hormati, karena kami belum berbuat apa-apa bagi bangsa ini. Tapi Jendral, kami akan berusaha semampu kami, karena perjuanganmu dan perjuangan teman-temanmu tak akan kami sia-siakan. Percayalah kami jendral, kami yang akan menjaga bangsa ini, agar kau dan teman-temanmu bisa tersenyum. (KOMINFO/Rachmat)

Share Your Tought!

Email kamu enggak bakal di publish, share apalagi kami jual. Fields yang wajib ditandai pake *