Branding?

Apa, Kapan, Mengapa?

Sejarah
1500-an – Branding berarti membuat tanda. Setiap tanda haruslah unik—bentuknya simpel, mudah dibedakan antara satu dengan yang lainnya (distinctive), dan mudah diidentifikasi secara cepat.

1750-an – 1870-an – Pembuatan dan pelegalan merek dagang (trademark) sebagai properti intelektual. Trademark terdiri dari kata, kalimat, simbol, desain, bentuk, dan warna.

1870-an – 1920-an – Didorong semangat zaman yang kaya akan penemuan baru, bermunculan produk yang inovatif dan berdaya cipta dari perusahaan-perusahaan ikonik. Format cetak memberi ruang untuk brand bisa menggunakan kata, logo, dan ilustrasi yang membedakan dirinya dengan yang lain. Sifat iklan masih deskriptif dan informatif.

1920-an – 1950-an – Kemunculan radio dan televisi. Bukan hanya visual, branding kemudian dibungkus dalam bentuk jingle, slogan, dan pesan-pesan bertarget di radio, serta visual, kata, bunyi dan musik di televisi.

1950-an – 1960-an – Brand memanfaatkan format-format yang besar, “berisik”, dan eye-catchy, yang mudah ditangkap mata dan didengar telinga: billboards, signs subway, dan lebih banyak lagi iklan TV dengan ditemukannya TV berwarna di tahun 1953. Hal ini juga mengikuti gaya hidup masyarakat yang berubah.

1960-an – 1990-an – Banyak dilakukan perubahan pada brand untuk menjaga supaya brand tetap relevan dengan zaman, sekaligus standout dibandingkan para pesaingnya. Cara-caranya dengan mengubah bentuk logo, penampilan pegawai di toko-toko retail, sampai slogan yang dikumandangkan. Posisi brand jadi semakin penting di perusahaan. Dimulai pula strategi emotional advertising yang bertujuan menyentuh sisi emosional konsumen.

2000-an – sekarang – Era digital. Iklan di media cetak menjadi semakin kurang laku dibanding iklan TV. Apalagi dibandingkan iklan di media sosial. Pemasar menjadi semakin data-driven dan strategis, brand awareness dilakukan dengan URL, hashtag, buzzword, dsb. Lebih dibanding sebelumnya pula, brand dituntut untuk menjadi relatable, membangun koneksi yang terus menerus dengan kustomer atau target sasarannya dengan cara engagement dan involvement, mempunyai misi ataupun nilai-nilai yang diperjuangkan, dan bisa relate dengan target sasarannya, bahkan sampai harus memahami segala hal yang berkaitan maupun berpotensi berkaitan dengan semua proses produksi, distribusi, maupun konsumsi yang dilakukannya. Pada akhirnya, keberlanjutan brand berujung kepada review orang lain: Apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain mengenai brand ini? Hal ini menentukan loyalitas dan kepercayaan orang kepada brand.

Definisi 

Branding adalah apa yang dipersepsikan, dipikirkan, dan/atau dirasakan orang lain mengenai kita/lembaga kita/komunitas kita/perusahaan kita dari pengalamannya berinteraksi dengan kita.

Brand sendiri, singkatnya adalah apa yang orang lain pikirkan, rasakan, dan katakan tentang kita.

Jadi, branding termasuk juga ketika aku sedang tidak dalam mode “mem-branding” diri?

yap, betul! Terutama untuk masalah personal branding atau branding individu. Berbeda dengan branding lembaga atau komunitas atau proker atau produk, jika kalian berniat menjadi calon ketua sesuatu yang pengujinya adalah massa lembaga atau komunitas yang sudah mengenalmu sebelumnya, semua hal yang kamu lakukan dan ucapkan yang didengar, dilihat, dan dicerap oleh panca indra orang lain, dapat menentukan keseluruhan branding kamu di mata orang lain. Termasuk ketika kamu melakukan kegiatan sehari-hari seperti mengobrol atau berkuliah, termasuk kamu di masa sebelum dengan sadar mem-branding diri! Maka dari itu pula, akan jadi sangat merepotkan dan melelahkan ketika branding yang kita bangun tidak datang secara tulus dari nilai-nilai yang kita pegang dan kepribadian kita yang sebenar-benarnya. Bayangkan kita membangun sebuah kepribadian bohongan di dunia nyata hanya supaya disukai orang. Akan sampai kapan hingga kebohongan ini ketahuan?

Branding juga berarti sudah di level menguji apakah yang distrategikan di tahap marketing dan yang dikomunikasikan lewat kata-kata dan tindakan dari advertising sungguh-sungguh sampai kepada orang lain atau tidak. Jika menurut si A, dirinya adalah orang yang disiplin, maka kerja branding sudah sampai ke tahap bertanya kepada orang lain: “Apakah benar A adalah orang yang disiplin?” Dan jika banyak orang menjawab, “Ya, A adalah orang yang disiplin!” Maka ‘branding’ ini bisa dikatakan berhasil. Namun tanpa proses marketing dan advertising, agaknya tidak akan bisa ada persepsi yang muncul pada definisi branding. Jadi, bisa kita bilang bahwa branding juga mencakup marketing dan advertising di dalamnya. Kesimpulan inilah yang akan digunakan sebagai definisi brand dan branding di dalam seri ini. Barangkali masih ada kelemahan dalam penarikan definisinya, yang diharapkan dapat dikoreksi kemudian. Namun, kembali kepada keragaman definisi, saya kira definisi yang telah diutarakan pada slide sebelumnya sudah dapat diterima sebagai bagian dari salah satu definisi yang sah-sah saja digunakan.

Elemen Branding 

  1. Brand Hearth  – Singkatnya, adalah value, purpose, visi dan misi dari sebuah brand. Esensi dari brand. Inilah yang kalau bisa tidak berubah-ubah
  2. Brand MessagingSeni dalam mengkomunikasikan esensi tersebut kepada orang lain. Baik lewat kata sampai tindakan.
  3. Brand IdentityMenurut Marty Neumeier adalah “ekspresi brand yang terlihat oleh orang lain, termasuk trademark, nama brand, komunikasinya, dan tampilan visualnya.” Bisa juga sebagai “rangkuman” dari bagaimana brand terlihat, terasa, dan bicara kepada orang lainnya.

Tahapan Menyusun Branding:

  1. Strategi – Menyusun brand heart, merencanakan brand messaging serta brand identity yang diperlukan-–serta memastikan keselarasan di antara ketiganya
  2. Produksi – Apa yang sudah distrategikan, perlu dibuat ke dalam wujud nyata. Produksi poster, video infografik, sampai caption-caption unik! 
  3. Distribusi – Apa yang sudah kita strategikan dan kita produksi, kita sebarkan dengan cara-cara yang tepat supaya sampai kepada audiens.
  4. Analisis – Kita coba lihat, apa yang sudah berjalan dengan baik? Apa yang perlu ditingkatkan? Apakah branding yang kita strategikan di awal tercapai dan sesuai pada audiens.

Penulis: Ahmad Al Fauzan


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *