Institut Teknologi Bandung (ITB) merupakan perguruan tinggi yang memiliki tiga kampus di daerah yang berbeda, yakni kampus utama Ganesha di Bandung, Jatinangor, dan Cirebon, dan kampus Jatinangor. Multikampus Jatinangor merupakan yang pertama kali didirikan pada tahun 2016, kemudian disusul dengan kampus Cirebon yang baru diresmikan tahun 2022. Sayangnya, sering kali, multikampus tersebut dianggap sebagai kampus yang ‘kurang ITB’, padahal banyak juga kelebihannya!

Ragam Jurusan di Multikampus

Pada multikampus, terdapat berbagai jurusan yang terbilang baru dan tidak dapat ditemukan di kampus Ganesha, bahkan Indonesia. Jurusan tersebut memang tampaknya sengaja ditempatkan di ITB multikampus untuk memudahkan akses belajar-mengajar. Sebagai contoh, jurusan Kriya ditempatkan di kampus Cirebon yang kaya akan batik, benang tenun, keramik, tanah liat, dan bahan lainnya. Selain itu, masih di kampus yang sama, terdapat jurusan Oseanografi FITB yang lokasinya dekat dengan pantai dan lautan. Ada pula jurusan Teknik Pengelolaan Sumber Daya Air FTSL yang ditempatkan di kampus Jatinangor untuk memenuhi kebutuhan alat dan ruangan laboratorium yang memadai. 

Berdasarkan laman Admission ITB, pada tahun 2021, terdapat 3 jurusan baru di kampus ITB Jatinangor yaitu Desain Komunikasi Visual (DKV) FSRD, Sistem Teknologi Industri (STI) STEI, dan Teknik Informatika (IF) STEI. Kabar gembira juga terdengar dari kampus Cirebon yang pada 17 Januari 2022 akhirnya membuka gerbang bagi kegiatan perkuliahan setelah pertama kali didirikannya program studi pada Tahun Akademik 2016/2017. 

Apa Kabar Kemahasiswaan Multikampus?

Tidak dapat dipungkiri, mayoritas kehidupan berkemahasiswaan di multikampus Jatinangor dan Cirebon saat ini masih terpusat di kampus Ganesha dan belum berjalan secara merata. Raden Arjuna (SA’18), Gubernur Multikampus Kabinet KM ITB Periode 2021/2022 menuturkan, masih sedikit mahasiswa yang mau fokus berorganisasi di multikampus, “Kebanyakan yang ikut Kabinet itu join-nya ke ‘pusat’ (kampus Ganesha), bukan ke Keresidenan Multikampus. Apalagi kalau offline gini kan tidak ada batasan jarak, jadi yang dari kampus Jatinangor dan Cirebon pun ikut ke yang kampus Ganesha karena yang ‘ramai’-nya di sana.”

Padahal, kedua kampus tersebut memiliki wilayah yang lebih luas dibandingkan di Bandung, serta kegiatan-kegiatan kemahasiswaannya pun tidak kalah menarik. Salah satu yang terbesar adalah Olimpiade Jatinangor (OJAN) yang dilaksanakan 2 tahun sekali, bergantian tiap tahunnya dengan Liga KM ITB yang dilaksanakan di kampus Ganesha. OJAN, di bawah naungan Keresidenan Multikampus, KM ITB, memang khusus diselenggarakan untuk mewadahi kolaborasi di bidang olahraga dan seni. Beberapa cabang kegiatan yang dipertandingkan di OJAN adalah futsal, bulu tangkis, catur, tenis meja, atletik, dan lomba band.

Plus Minus Menjadi Mahasiswa Multikampus

Raden pun menambahkan bahwa terdapat beberapa keuntungan menjadi mahasiswa multikampus. Sebagai pribadi yang senang ‘berjalan-jalan’, ia sangat menikmati momen mobilisasi dari kampus Jatinangor ke Ganesha maupun sebaliknya. “Tetapi karena kondisinya sekarang online, jadi jarang melakukan perjalanan ini. Selain itu juga, ada beberapa fasilitas di multikampus yang lebih baik dari kampus Ganesha, contohnya di kampus Cirebon, fasilitas untuk olahraganya ada lapangan voli, futsal, basket, tenis, dan juga sedang masa pertumbuhan untuk lapangan rumputnya,” ujar Raden.

Akan tetapi, tentunya di mana ada kelebihan pasti terdapat pula kekurangannya. Terbatasnya jumlah teman-teman mahasiswa di kawasan multikampus menjadi salah satu faktor masih timbulnya fenomena Ganesha centric. “Oh iya, kekurangan lain di kampus Jatinangor adalah asramanya ada batas jam malam yaitu jam 11 dan lokasinya di dalam kampus, jadi bener-bener gak bisa kabur,” tutur Raden dengan sedikit candaan.

Sebagai penutup, Raden berpesan kepada para mahasiswa multikampus untuk selalu kuat dan tangguh, terlebih lagi dalam mempersiapkan perkuliahan offline karena tentunya akan banyak memerlukan mobilisasi di dalam kampus, maupun menuju kampus Ganesha. Mahasiswa multikampus pun harus memiliki motivasi sejak awal untuk dapat mengembangkan diri di kampus manapun di ITB. Oleh karena kampus Jatinangor dan Cirebon masih baru, Raden menitipkan agar selalu memiliki kepercayaan kepada ITB bahwa masa depan akan cerah walaupun lokasinya terpisah dengan kampus utama, kampus Ganesha. Seperti kata pepatah, berlian dimanapun akan tetap menjadi berlian, maka janganlah takut untuk terus ‘bersinar’ dimanapun kamu berada.

Penulis: Faza Hauna (OS’20), Farah Syahidah (KL’19)

Penyunting : Sekar Dianwidi (BE’19)

Kedirjenan Dokumentasi Historis

Kementerian Penelitian dan Pengembangan

Kemenkoan Pergerakan Internal Kabinet KM ITB 2021/2022

Categories: Uncategorized

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *