[KILAS BERITA – Parade Wisuda April 2017: Melepas Para Calon ‘Pahlawan’ Indonesia]

km.itb.ac.id, Bandung – Tiga kali dalam setahun, ITB Kampus Ganesha diramaikan dengan sorak-sorai kemeriahan parade wisuda. Setelah pada Jumat (31/03/2017) mahasiswa-mahasiswi pascasarjana menyelesaikan prosesi wisudanya, Sabtu (01/04/2017) adalah giliran mahasiswa-mahasiswi sarjana untuk melangsungkan prosesi wisudanya, yang kemudian dilanjut dengan prosesi parade dari Sasana Olahraga Ganesha (Saraga) hingga ke gerbang depan ITB Kampus Ganesha. Warna-warni jaket Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dibalut dengan tema ‘Superhero’ menghiasi euforia Parade Wisuda April ITB kali ini.

 

Berbeda dengan beberapa parade wisuda sebelumnya, akhir dari prosesi arak-arakan, yaitu penampilan HMJ-HMJ, kali ini tidak berujung di Lapangan Basket ataupun Lapangan Cinta ITB Ganesha, melainkan berujung di pintu gerbang ITB Ganesha yang berada dekat Megatron. Lokasi ini dipilih agar penampilan HMJ tidak hanya ditonton oleh wisudawan-wisudawati dan massa HMJ, melainkan juga oleh masyarakat sekitar.

 

Selain penampilan HMJ, tepat di seberang gerbang ITB kampus Ganesha, yaitu kawasan Kubus, Panitia Parade Wisuda April ITB 2017 juga menggelar Pasar Murah, yaitu stan-stan yang menjual barang-barang hasil sumbangan wisudawan-wisudawati dan massa HMJ dengan harga yang bersahabat. Warga sekitar Tamah Hewan, Kebon Bibit, Pelesiran, dan Siliwangi diundang oleh panitia untuk hadir di Pasar Murah tersebut sehari sebelum Parade Wisuda, sekaligus diberikan 250 kupon makanan gratis yang juga dapat diambil di Pasar Murah.

 

Pasar Murah ini diselenggarakan agar mahasiswa, yang juga merupakan bagian dari masyarakat, dapat menjadi lebih dekat dengan masyarakat. Selain itu, melalui Pasar Murah ini, wisudawan-wisudawati diharapkan dapat menjadi pahlawan-pahlawan bagi masyarakat Indonesia di masa mendatang dengan kontribusi-kontribusi yang dapat diberikannya sekecil apapun, termasuk dengan bentuk pemberian sumbangan di Pasar Murah ini.

 

 

[KILAS BERITA – Memacu Semangat Nasionalisme melalui Diskusi dan Konsolidasi Kebangsaan]

Dengan mengangkat tema “Pancasila Sebagai Sistem Paripurna”, pada hari Selasa (4/4/2017), diselenggarakan diskusi dan konsolidasi yang dihadiri oleh para mahasiswa, pemuda, buruh, maupun masyarakat umum lainnya. Bertempat di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, acara yang merupakan hasil kerja sama dari Pemuda Pemudi Kedaulatan Pancasila (PADI KAPAS) dan Majalah Ganesha ITB ini merupakan wujud kegelisahan putra-putri bangsa akan permasalahan yang berlanjut di Republik Indonesia, dan untuk itu, bersama-sama mencari dan memahami solusi jangka panjangnya. Keluaran dari diskusi dan konsolidasi ini pun para peserta diharapkan dapat memahami kembali tentang ideologi Pancasila itu sendiri sebagai sumber dari segala sumber hukum di Republik Indonesia, memahami peran, fungsi, dan posisi masing-masing di NKRI, sadar kembali di tengah-tengah arus hedonisme dan apatisme, serta pada akhirnya turut serta dalam perubahan dan penyelamatan NKRI.

 

Pada pukul 14.00 tepat, acara dibuka dengan pelantunan lagu Indonesia Raya oleh segenap peserta dan panitia yang berada di ruangan, lalu dilanjutkan dengan sambutan oleh ketua organisasi PADI KAPAS, Riean Kurniana. Acara pun kemudian dialihkan kepada Kurnia Sandi Girsang, Menteri Koordinator Sosial Politik Kabinet KM ITB, selaku moderator dari mata acara diskusi panel dan konsolidasi. Pada acara ini, turut dihadirkan pula beberapa pembicara dari berbagai instansi yang terkait, yaitu Aris Kurniawan sebagai seorang akademisi dan budayawan, R. Abdullah selaku ketua umum Pimpinan Pusat Serikat Pekerja Kimia, Energi, dan Pertambangan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PP SPKEP SPSI), Iskandarsyah Siregar selaku Kepala Pusat Studi Nasional Universitas Nasional, Galih Kusuma selaku Wakil Direktur Eksekutif Pancasila Center, serta Rudi Alfian dari Majelis Kebangsaan Pancasila Jiwa Nusantara.

 

Diskusi dibuka oleh pemaparan Aris Kurniawan mengenai pancasila sebagai paradigma kebangsaan. Pancasila bukan merupakan suatu hal yang baru, melainkan ialah hasil dari peradaban yang lahir di Indonesia, yang telah dikaji dan dikaji sejak jauh sebelum Indonesia merdeka. Nilai-nilai Pancasila yang merupakan buah pikiran dari leluhur dan sekaligus sebagai visualisasi norma, adat istiadat, dan perilaku dasar bangsa Indonesia, pada zaman ini sedikit demi sedikit ‘dikikis’ oleh sistem demokrasi yang sejak reformasi tahun 1998 dicanangkan di NKRI ini.

 

Sistem demokrasi yang telah merambat di Indonesia membawa beberapa dampak yang tanpa disadari membawa kita jauh dari Pancasila. Aris Kurniawan juga menegaskan bahwa demokrasi menghasilkan penguasa, bukan pemimpin. Pada sistem demokrasi, timbul persaingan yang bebas atau liberal di tengah-tengah masyarakat, sehingga pihak yang lebih kuat akan terus berkuasa, dan juga sebaliknya

 

Dituturkan oleh R. Abdullah, Indikasi-indikasi dari adanya liberalisme ini dapat dilihat dengan jelas pada beberapa sektor, di antaranya ekonomi, politik, sosial budaya, bahkan manufaktur, pertambangan, industri jasa, perikanan dan pertanian, serta sektor pariwisata. Dipaparkan pula bahwa pada sistem demokratis, ekonomi yang kuat dapat dengan bebas bersaing dengan pihak ekonomi yang lemah, tanpa melihat benar dan salah sesuai jati diri bangsa. Pada sektor politik, partai-partai sebagai alat demokrasi tumbuh merajalela di lingkungan NKRI ini. Beliau pun menyebutkan, metode pemilihan secara ‘voting’ dari sistem demokrasi ini tidak sesuai dengan sila keempat dari Pancasila yang menjunjung tinggi musyawarah untuk mufakat. Sedangkan pada sektor sosial budaya, terdapat kebebasan pers, di mana, kemungkinan media untuk menyebarluaskan konten-konten yang kurang sesuai dengan norma di masyarakat pun juga meningkat.

 

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang telah lahir bahkan jauh sebelum negeri ini merdeka. Rudi Alfian menuturkan bahwa pancasila pun sebenarnya tumbuh dari sifat intrinsik bangsa Indonesia sendiri yang berketuhanan, berkemanusiaan, menjunjung persatuan, bermusyawarah untuk mufakat, serta berkeadilan sosial. “Segalanya harus kembali ke Pancasila,” tegas beliau sekaligus mengakhiri sesi diskusi pada acara ini.

 

Acara ini diselenggarakan dalam rangka menyamakan visi kebangsaan dan menggalang persatuan antar generasi muda dalam upaya mendaulatkan Pancasila dan menyelamatkan Bangsa dan Negara Indonesia.  Acara pun diakhiri dengan pembacaan pernyataan sikap bersama sebagai turunan dari rumusan Resolusi Kebangsaan yang dibacakan pada acara Musyawarah Kebangsaan di Keraton Kasepuhan Cirebon pada awal 2017.

 

 

[KILAS BERITA – Bela Diri dalam Tarian]

 

Capoeira, salah satu bela diri yang berasal dari Brazil dengan kolaborasi musik, akrobatik, dan musik di dalamnya. Berasal dari bahasa Tupi, salah satu bahasa yang ada di Brazil, kata Capoeira diambil dari kata ka’a e pûer yang berarti ‘hutan itu’, dengan merujuk pada daerah dengan sedikit pepohonan di mana para budak –orang yang mengembangkan capoeira dulu– bersembunyi dari tuannya atau pemerintah yang kejam.

 

Pada Jumat (07/04/2017), Unit Capoeira ITB mengadakan “Capoeira In Action” (CIA). Acara yang dimulai selepas Maghrib ini berisi pertunjukan dari para capoeirista, para pelaku capoeira. Sempat tertunda dan berpindah tempat karena turunnya hujan, acara tetap berlangsung di Basement CC barat dengan beberapa penampilan. Maculelê, roda, dan dança coco menemani malam di Basement CC barat. Alunan musik juga mengiri penampilan dari para capoeirista. Ada beberapa instrumen yang digunakan, yakni Berimbau (semacam rebab) dan Pandeiro (semacam gendang). Capoeirista juga menunjukkan kebolehan mereka dengan solo performance.

Sumber Dokumentasi : Unit Capoeira ITB

 

 

[KILAS BERITA – Musik Petang oleh Apres! ITB Meriahkan Teras Cikapunding]

Gelaran Mustang Eksternal kembali diadakan pada hari Sabtu (08/04/2017). Acara yang diselenggarakan oleh Unit Musik Apres! ITB ini memang rutin digelar tiap tahunnya dan Mustang (Musik Petang) kali ini diadakan di Teras Cikapundung, Kota Bandung. Mustang yang bertemakan “Saturdate” ini banyak menyedot perhatian dari pengunjung Teras Cikapundung yang terlihat asik dan antusias. Bahkan, saat band-band masih melakukan soundcheck pengunjung sudah terlihat memadati tribun dan menantikan acara untuk dimulai.

 

Mustang kali ini dimeriahkan oleh Sky Sucahyo dan AHSP (Andre Harihandoyo & Sonic People)  dan juga Band-band Apres! seperti Wild Antelope, Havana, Hey Safari, Sejenak dan CMIIW. Acara yang dimulai sekitar pukul 5 sore ini, pengunjung semakin ramai hingga penampilan terakhir dari Sky Sucahyo dan  AHSP. Penampilan Sky kali ini ditambah oleh Alvin dari band Alvin & I sebagai gitaris berhasil mencuri perhatian penonton dengan lagu-lagunya yang easy listening dan nyaman didengar.

 

AHSP juga tidak kalah pecah. Lagu-lagu yang dibawakan oleh AHSP membuat kita seakan-akan sedang berada di kota New York dan menikmati kopi sambil menikmati malam yang cerah. Alat musik seperti Akordion dan Klarinet menambah kenikmatan dari musik yang dibawakan oleh AHSP.

 

Band-band Apres! yang mengisi acara kali ini juga tampil prima, sebut saja Hey Safari yang membawakan lagu-lagu bertema cinta lalu Havana yang membawakan lagu Sweet Disposition dari The Temper Trap semakin menambah kemeriahan malam itu. Keseruan di malam itu pun harus berakhir pada pukul 10 malam. Menurut Unit Apres! ITB, acara Mustang Eksternal yang memang disiapkan dari jauh-jauh hari ini terbilang sukses, dan tidak ada kendala berarti  yang terjadi.

Sumber Dokumentasi : Unit Apres! ITB

 

 

[KILAS BERITA – Teuku Wisnu: Tetaplah Menginspirasi Orang]

km.itb.ac.id, Bandung – Keluarga Mahasiswa Islam (GAMAIS) ITB menyelenggarakan G-Show yang bertajuk ‘Mahasiswa Muslim Masa Kini’. Acara diselenggarakan pada hari Minggu (16/04/2017) di Aula Barat ITB. Pembicara yang mengisi acara ini adalah Teuku Wisnu (Public Figure), M. Mahardhika Zein (Presiden KM ITB 2016), dan Nur Ihsan Jundullah (Tokoh Agama).

 

Rangkaian acara diinisiasi dengan pembacaan ayat suci Al Quran oleh Syihabuddin (Desain Produk 2015) selaku Ketua Unit Pengembangan Tilawatil Quran Al-Muhandis, sambutan oleh Ardhi Rasy Wardhana (Teknik Pertambangan 2013) selaku Presiden KM ITB 2017, sambutan oleh Ahmad Wali Radhi (Teknik Pertambangan 2014) selaku Kepala Gamais ITB 2017, dan sambutan oleh M. Luthfi Habibi (Teknik Mesin 2014) selaku Ketua Pelaksana G-Show. Kemudian, talkshow ini dimoderatori oleh Khalid Nur R (Teknik Fisika 2013) yang pernah menjabat sebagai Kepala Gamais ITB 2016.

 

Teuku Wisnu merupakan public figure yang dikenal melalui perannya sebagai artis, pemain sinetron terutama Cinta Fitri, dan bintang iklan. Kini ia fokus berwirausaha kuliner oleh-oleh bersama istrinya. Mereka berdua membuka toko kue bernama Bogor Rain Cake dengan tagline “Sepotong kisah dari kota hujan yang memberi keberkahan.”

 

Mahardhika Zein sudah aktif di organisasi sejak kecil. Diawali dengan menjadi ketua OSIS ketika SMA. Ayahnya menyarankan untuk menamatkan pendidikan sarjana di dalam negeri agar tertanam rasa nasionalisme dan keislaman di Indonesia yang mengakar. Organisasi pertamanya di ITB adalah Gamais ITB dan terpilih sebagai ketua angkatan 2012 Al Amin (Lembaga Dakwah FTSL ITB).

 

“Dahulu saya memiliki prinsip bahwa sumber kebahagiaan adalah uang, saya kumpulin uang sebanyak-banyaknya dan ternyata yang saya rasakan kosong, hampa gak ada apa-apa,” ungkap Teuku Wisnu. Sedangkan Dhika menyebutkan bahwa sebagai mahasiswa muslim hendaknya mengajak masyarakat untuk selalu mengingat adanya Allah dalam segala situasi.

 

Dalam mengajak orang ke jalan kebaikan, Wisnu mengungkapkan untuk selalu melakukannya dengan langkah yang tidak kaku, sesuai dengan usia. Contohnya, kalau anak muda perlu dengan cara yang gaul. Menurut Ustadz Ihsan, mahasiswa muslim masa kini adalah yang menjauhkan dirinya dari rasa tinggi hati dan lebih baik dari orang lain.

 

 

[KILAS BERITA – Muhammad Al Kahfi Menangkan Titel Mahasiswa Berprestasi ITB 2017]

Sebagai pemuda harapan bangsa, mahasiswa idealnya hadir dengan prestasi-prestasi yang gemilang. Hal inilah yang dilakukan Muhammad Al Kahfi (Matematika 2014) setelah ditetapkan sebagai Mahasiswa Berprestasi ITB 2017 pada Kamis (13/04/2017) melalui program “Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Tingkat ITB 2017”. Program yang diselenggarakan oleh Lembaga Kemahasiswaan (LK) ITB ini telah menyeleksi 5 dari 12 mahasiswa terbaik dari setiap fakultas untuk kemudian mempresentasikan karya tulis ilmiahnya pada Rabu (12/04/2017) lalu di Aula Timur ITB.

 

Sesi presentasi dibuka dengan sambutan dari Ketua LK ITB, Dr. Eng. Sandro Mihradi, dan juga perkenalan dewan juri, yakni Dr. Sony Suhandono, perwakilan dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), Dr. Umar Khayam, perwakilan dari Sekolah Teknologi Elektro dan Informatika (STEI), Ir. Eko Mursito, M.T., perwakilan dari Fakultas Teknologi Industri (FTI), dan terakhir, Tizar M. K. Bijaksana, M.T., perwakilan dari Sekolah Arsitektur dan Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK). Keilmuan dewan juri yang berbeda tentunya akan menghasilkan sudut pandang yang berbeda-beda pula dalam penilaian.

 

Berlanjut ke sesi utama, yaitu sesi presentasi, peserta mempresentasikan karya tulisnya selama 10 menit dan diteruskan sesi tanya jawab dengan juri. Kahfi mendapat giliran kedua setelah Refaldi Intri (Teknik Fisika 2014), dan dilanjutkan oleh Albert Eka (Manajemen 2014), Atika Rahmawati (Sistem dan Teknologi Informasi 2014), dan terakhir Claudia (Teknik Material 2014). Topiknya pun variatif, mulai dari energi alternatif, asuransi berbasis syariat, strategi pengembangan pasar global, penerapan sistem informasi terkait penjualan produk lokal, hingga material alternatif. Kahfi pribadi tidak menyangka dapat menang, tetapi nyatanya ia berhasil menghadirkan inovasi melalui karya tulisnya yang berjudul “Stochastic Models of Premium Allocation of Shariah Life Insurance Using Saving Components”.

 

Selanjutnya, Kahfi akan menjadi perwakilan ITB di Mahasiswa Berprestasi Tingkat Nasional 2017. Tak hanya itu, mahasiswa yang gemar membaca ini pun mendapatkan reward untuk internship di Belanda selama dua bulan. “Percaya dan bersyukur sama Tuhan. Karena apa yang kita prediksi belum tentu sama dengan apa yang Tuhan putuskan,” terang mahasiswa asal Padang Panjang ini.

 

 

[KILAS BERITA – Up Real State: Pameran karya Pengusaha Muda ITB]

km.itb.ac.id, Bandung – Mahasiswa Kewirausahaan ITB angkatan 2018 menyelenggarakan Pameran Karya Bisnis yang berjudul “Up Real State”. Acara ini diselenggarakan di Mall PVJ pada Sabtu (15/04/2017) dari pukul 10.00-22.00 WIB. Up Real State memamerkan berbagai jenis produk-produk bisnis, seperti Properties, Fashion, Food and Baverages, IT, dan lain sebagainya. Total ada sekitar 40 produk yang dipamerkan oleh individu maupun kelompok.

 

Terdapat tiga spot utama dalam acara pameran ini, yaitu stand makanan, stand nonmakanan dan panggung.

 

Stand makanan berisi berbagai jenis produk bisnis Food and Bavarages. Di dalamnya terdapat makanan olahan dari ayam, bebek, minuman, kopi, es kream, jus dan lain sebagainya. Stand makanan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Selain karena produknya yang diminati, harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau.

 

Berbeda halnya dengan stand nonmakanan, nuansa yang diberikan adalah nuansa lorong. Di hiasi dengan pipa-pipa paralon yang diberi warna menambah uniknya pameran kala itu dan cukup memanjakan mata pengunjung yang berdatangan. Stand nonmakanan ini berisi berbagai jenis produk bisnis seperti pakaian, sepatu, properti, notebook, hiasan rumah, sovenir pernikahan dan lain sebagainya. Harga yang ditawarkan untuk setiap produk cukup terjangkau. Di stand nonmakanan juga ditawarkan produk-produk IT, seperti Kelas startup online.

 

Selain dua spot pameran, terdapat pula spot panggung yang menampilkan talkshow dari berbagai pembicara dari kalangan bisnis. Dihadiri oleh pebisnis yang sukses di bidangnya.

 

Acara Up Real State diselenggarakan untuk memenuhi Mata kuliah Perencanaan dan Kelayakan. Mata kuliah tersebut merupakan mata kuliah satu tahun. Sehingga, berbagai produk yang dipamerkan adalah produk hasil perkembangan selama satu tahun.

 

 

[KILAS BERITA – UKMR ITB Hadirkan Budaya Melayu di Tanah Pasundan]

 

Pergelaran Melayu adalah salah satu rangkaian acara besar Unit Kebudayaan Melayu Riau (UKMR) ITV. Pada tahun ini diberi nama Pesta Pora Melayu dengan tema “Romansa Tanah Melayu”. Rangkaian acaranya diawali dengan ada pra-event yang dilaksanakan Jumat (07/04/2017) dalam bentuk arak-arakan permainan kompang, sebagai salah satu alat musik pukul khas Melayu, dilanjutkan dengan adanya teaser drama.

 

Acara kedua yaitu Wisata Kuliner Melayu pada Sabtu (08/04/2017) di lapangan CC Barat yang menjajakan masakan khas Melayu Riau dan Kepulauan Riau, terdapat 11 jenis makanan dengan cita rasa khas Riau. Puncak Pesta Pora Melayu dilaksanakan Minggu (16/04/2017) di Teater Tertutup Dago Tea House. Menampilkan Drama Romantis berjudul “Asal Mula Selat Nasi”, diselingi dengan 5 tarian dan 5 musik pengiring Melayu.

Sumber Dokumentasi : UKMR ITB

 

 

[KILAS BERITA – Loedroek ITB Ajak Massa Kampus Luruskan Polemik Jawa-Sunda Melalui Seni Drama]

km.itb.ac.id, Bandung – Sabtu (22/04/2017) Loedroek ITB kembali mengadakan Maen Gedhe. Kali ini judul yang diangkat adalah “Beauty and the Bubat”. Gelaran ini ada setiap semester. Seperti biasa, kegiatan diadakan di Aula Barat ITB pada pukul 19.00-22.30 WIB.

 

Tema yang diangkat adalah Perang Bubat. Perang Bubat adalah perang yang terjadi pada tahun 1279 Saka atau 1357 M pada abad ke-14, yaitu di masa pemerintahan Majapahit Hayam Wuruk. Perang terjadi akibat perselisihan antara Mahapatih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat, yang mengakibatkan tewasnya seluruh rombongan Sunda.

 

Acara dibuka dengan tari Remo yang bermakna sebagai penyambutan tamu agung dan dibawakan oleh 2 orang penari. Selepas Remo, Kidungan menjadi acara kedua. Ini merupakan musikalisasi pantun yang berisi isu-isu seputar kampus, nasional, ataupun global. Gaya pembawaan yang ceria membuat tawa bergemuruh di seluruh ruangan.

 

Selanjutnya, Dharmawanita Loedroek ITB mewarnai rangkaian acara. Dharmawanita adalah sebuah parodi satire dan diperankan oleh laki-laki yang berkostum wanita. Tema yang dibawakan berkenaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta. Acara diakhiri dengan pementasan utama Maen Gedhe Loedroek ITB. Di akhir drama, ditunjukkan secara tersirat bahwa konflik Jawa-Sunda adalah konspirasi dari Belanda untuk memecah-belah bangsa.

Sumber Dokumentasi : Loedroek ITB

 

 

[KILAS BERITA – ITB sebagai Tuan Rumah TKMDII XIII]

km.itb.ac.id, BANDUNG – Minggu pagi (23/4/17), kegiatan live painting dan sketch walk oleh mahasiswa dan mahasiswi Desain Interior se-Bandung tampak meramaikan salah satu sudut car free day, Dago, sebagai salah satu rangkaian acara pra-event Temu Karya Mahasiswa Desain Interior Indonesia (TKMDII). Adapun, pra-event ini diadakan secara serentak pada 21 titik di Indonesia. Di Bandung sendiri, terdapat lima universitas yang turut memeriahkan rangkaian pra-event TKMDII, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Nasional (ITENAS), Universitas Telkom, Universitas Maranatha, serta Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM). Acara yang digelar setiap dua tahun sekali ini pun kali ini mengangkat tema “Tradisional Eksploratif”, sebagai salah satu upaya pelestarian tradisi di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang mulai kebarat-baratan. Setelah 26 tahun, Institut Teknologi Bandung (ITB) akhirnya kembali menjadi tuan rumah dalam acara besar TKMDII ke-13 ini.

 

Pengenalan program studi Desain Interior kepada masyarakat yang lebih luas serta sebagai ajang kumpul bersama dan bertukar pikiran antarmahasiswa Desain Interior se-Indonesia merupakan objektif dari diadakannya acara ini. Disebutkan oleh Mila (Desain Interior 2013) selaku ketua panitia pelaksana bahwa TKMDII telah dilaksanakan sejak tahun 1980-an, oleh enam universitas di Indonesia dengan program studi Desain Interior pada saat itu. Turut disinggung pula, bahwa seiring dengan diadakannya acara ini, Desain Interior semakin berkembang di Indonesia.

 

Adapun, diadakannya pra-event ini merupakan salah satu upaya publikasi dari event utama pada tanggal 11-13 Agustus 2017 mendatang. Seminar, workshop, ekskursi pameran kerja, material expo, serta pertemuan dosen Desain Interior se-Indonesia merupakan beberapa mata acara yang akan diusung pada event utama nanti. Tak lupa, untuk lebih menarik masyarakat umum akan program studi ini, akan diselenggarakan pula festival jajanan kaki lima dengan menitikberatkan pada tema besar “Tradisional Eksploratif” yang dibawa.

 

 

[KILAS BERITA – Bidikmisi Inspiring Session Buka Wawasan Beswan untuk Tidak Berhenti Bermimpi]

km.itb.ac.id, Bandung – Sabtu (30/04/2017) Forum Bidikmisi (FBM) ITB V gelar Bidikmisi (BM) Inspiring Session 2017. Acara ini merupakan rangkaian talkshow dengan narasumber yang inspiratif. Pembicaranya adalah Alfi Irfan, S.E. (Founder and CEO Agrisocio), Dyana Chusnulitta J., S.Kesos (Founder Youth Voice Indonesia), dan Rivan Tristyanto, S.Mn. (Founder and CFO Kanavaia). Acara ini dihadiri sekitar 500 beswan Bidikmisi yang berlokasi di Auditorium Gedung CRCS.

 

AgriSocio adalah sebuah social enterprise yang bergerak di bidang pertanian. AgriSocio menciptakan produk dan jasa pertanian dengan Desa Benteng (sekitar IPB) sebagai desa binaannya. Salah satu produknya adalah IndoRempah. IndoRempah adalah minuman herbal alami yang terbuat dari jahe merah, cengkeh, kayu manis, cabe jawa, lada hitam, dan bunga lawang dengan gula pasir dan gula aren.

 

“Orang sukses adalah orang yang konsisten terhadap hal yang ditekuni,” ucap Dyana saat menceritakan pengalamannya menghadapi wawancara LPDP. Lima kunci sukses menurutnya adalah saat kita dapat menjawab lima pertanyaan berikut.

  1. Siapa Anda?
  2. Apa yang Anda senangi?
  3. Apa yang akan Anda lakukan?
  4. Siapa sasarannya?
  5. Perubahan apa yang akan terjadi?

 

Para pembicara setuju bahwa kegiatan akademik harus diutamakan. Untuk organisasi, utamakan yang sesuai dengan ekspektasi pengalaman yang diharapkan. Belajarlah di manapun agar seimbang dengan organisasi. Selain itu, berbincang dengan dosen mengenai kehidupan perkuliahan membuat beban masalah dapat berkurang.