Aksantara ITB merupakan unit kegiatan mahasiswa Institut Teknologi Bandung yang bergerak di bidang riset dan pengembangan wahana tanpa awak. Unit ini tergolong unit baru, setelah berdiri pada tahun 2013, Aksantara baru . Meskipun baru, Aksantara ITB tak ragu unjuk gigi bahkan di kancah internasional. Pada bulan September lalu, Aksantara ITB mengikuti TÜBITAK International UAV Competition 2018 di Turki.

TÜBITAK International UAV Competition 2018 merupakan kompetisi UAV yaitu Unmanned Aerovehicle atau pesawat tanpa awak berskala internasional yang diadakan setiap tahun oleh Badan Riset Sains dan Teknologi Turki. Pada tahun ini terdapat 85 tim yang erasal dari Pakistan, Mesir, Turki, dan Indonesia. sangat bergengsi bahkan dihadiri oleh Erdogan selaku Presiden Turki. Dari Indonesia terdapat dua universitas lain yang mengirimkan utusannya pula, Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS).  Dosen pembimbing tim Aksantara ITB mengakui kompetisi ini menerapkan prinsip-prinsip engineering, yakni melalui proses yang bertahap dan harus bisa dipertanggungjawabkan.

Kompetisi melalui beberapa proses dan Aksantara ITB lolos proses seleksi proposal. Dua tim dikirimkan yaitu pada kategori Fixed wing dan Rotary Wing. Tim Fixed Wing diketuai oleh Raynald Masli(AE’15), beranggotakan 6 orang yaitu Muhammad Ilman (AE’15), Dewa Mahardika (ET’17), Edbert Ongko (ET15), Rama Rahadi (ET’17), Dimas Apeco (FT16), dan Milleniawan Januar (AE’17).  Tim ini diberi nama Gana Raksaka yang berarti penjaga langit. Tim Rotary Wing juga memilki nama yaitu Tryata Vata yang berarti di atas angin. Tim Rotary Wing diketuai oleh Muhammad Falih Akbar (EL’16), beranggotakan 6 orang yaitu Rhenetou Virginio (EL’15), Moh. Dimas Yoga ((EL’16), Muhammad Hilmi (ET’15), ALif Ijlal (IF’15), AJi Wira (FT’16), Akbar Ajibaskoro (MK’16).

Dalam kompetisi ini tim Rotary Wing dan tim Fixed Wing harus menuntaskan tiga misinya masing-masing.  .Misi pertama yaitu menerbangkan UAV melalui lintasan yang telah dibuat dengan tambahan looping 360 derajat. Pada misi ini wahana Rotary Wing  harus diterbangkan langsung oleh pilot baik dengan cara terbang visual aau dengan  First Person View  (FPV). Misi kedua adalah melakukan  Payload Dropping pada target yang telah ditentukan posisinya. Payload Dropping Mechanism (PDM). Pada misi ini wahana UAV harus terbang denganotomatis tanpa dikendalikan oleh pilot. Mekanismenya yaitu dengan menentukan waypoint dan posisi GPS sebelum wahan terbang. Misi pertama dan kedua untuk Fixed Wing dan Rotary Wing sama, namun terdapat perbedaan pada misi ketiga. Misi Rotary Wing yang ketiga adalah mengambil kotak PDM dengan mekanisme terbang otomatis tanpa pilot dan juga diharuskan untuk melakukan Payload Dropping dengan lokasi target yang sama dengan misi kedua. Misi Fixed Wing yang ketiga adalah melakukan precision landing dengan jarak target yang ditentukan dengan garis finish dan terbang secara otomatis. Perbedaan antara kedua kategori tersebut selian pada misi ketiga yaitu wahana yang dipakai berbeda.

Tim Aksantara  ITB memiliki keunggulan dibandingkan dengan UAV milik tim lain. Kecepatan terbang yang sangata rendah yaitu sekitar 5 m/s atau setara dengan kecepatan saat manusia berjalan. Selain itu desain UAV milik tim Aksantara ITB adalah modular yaitu desain yang dapat dibongkar pasang. Hampir keseluruhan bagian dari UAV merupakan handmade atau tanpa mesin. Mesin hanya digunakan pada pemotongan triplek dan print 3D di bagian depan. Pendaratan dapat dilakukan dengan presisi, kontrol pilot seolah-olah melihat kondisi lintasan terbang yang berada di depan.

Persiapan mengikuti kompetisi ini membutuhkan waktu 8 bulan sejak Bulan Februari. Persiapan dimulai dengan pembentukan tim,perancangan konsep wahana UAV, pembuatan detail wahana UAV, proses manufaktur wahana hingga perancangan sistem terbang wahana. Selama proses persiapan dan kompetisi, tim AKsantara ITB mengalami berbagai kendala baik teknis maupun non-teknis. Kendala soal teknis adalah tim tidak memperkirakan kecepatan angin yang ternyata tinggi. Namun tim dapat mengatasi hal tersebut. Selain itu pada misi ke dua terdapat kendala teknis pula pada GPS sehingga UAV keluar jalur yang seharunsya. Meskipun begitu, Tim Aksantara ITB menjadi satu-satunya tim yang dapat memasukkan bola sesuai misi kedua.

Tim Aksantara ITB memenangkan Juara 2 di kategori  Fixed Wing dan peringkat 9 di kategoi Rotary Wing. Tim membawa pulang hadiah uang sebesar 15.000₺. Hal ini menjadi sebuah kebanggan karena ini merupakan kali pertama bagi Tim Aksantara mengikuti kompetisi skala internasional dan sudah mendapatkan juara. Selain itu tim juga mendapatkan dana dari penyeleggara kompetisi untuk menggantikan dana riset walupun tidak semua tertutupi.

Pada Rabu 3 Oktober 2018, Tim Aksantara ITB menyelengarakan Konferensi Pers mengenai kemenangan tim mereka di TÜBITAK International UAV Competition 2018. Bertempat di Ruang Rapt LK lantai 1 Campus Center Barat Institut Teknologi Bandung dari jam 10.00 hingga 11.00. Konferensi Pers dihadiri oleh berbagai media profesional, diantaranya RRI Bandung dan Metro TV. Konferensi pers dihadiri juga oleh dua dosen pembimbing Tim Aksantara ITB yaitu Dr. WIdyawardhana Adiprawita, ST. MT. dan Dr. Ing. M. Agoes Moelyadi ST., M.Sc.

Kementerian Media dan Informasi
Kemenkoan Komunikasi dan Informasi
Kabinet KM ITB 2018/2019