BANDUNG, km.itb.ac.id – Inspirasi bisa muncul dari mana saja, tak terkecuali dari mahasiswa juga masyarakat. Tanpa disadari, ternyata banyak karya yang belum sepenuhnya diketahui khalayak, terutama karya-karya mereka yang berdampak di bidang kemasyarakatan. Melalui ajang bertajuk Sarikarya, Kementrian Relasi Karya Kemasyarakatan mempertemukan pelaku-pelaku kreatif baik dari dalam maupun luar kampus ITB dengan para mahasiswa ITB dalam rangka berbagi inspirasi pada Kamis (05/10/17) di Selasar Planologi.

Pada kesempatan ini, Sarikarya menghadirkan lima pembicara selaku para pelaku kreatif, seperti Abiyyu Faiq A. (PL 2015), Komunitas Bumi Inspirasi, Adinda Budi K. (STI 2013), Eljihadi Alfin (DI 2012), dan Rahmat Jabaril.

Sebagai pembicara pertama, Abiyyu tak segan untuk menyebar inspirasi melalui karya-karyanya. Berawal dari kegelisahan akan tingginya tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi, Abiyyu pun mulai berpikir untuk membuat lapangan kerja melalui perusahaan yang dirintisnya, yaitu Pejuang Property Syariah dan Khalifa Land. Tak hanya menjadi ajang untuk mengapilkasikan keilmuan yang telah dipelajari, Abiyyu pun berharap perusahaannya tersebut dapat menjadi solusi untuk meningkatkan taraf ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Di sesi ke dua, Bumi Inspirasi sebagai komunitas pusat pembelajaran menebar semangat berbagi melalui tiga pilar utamanya, yaitu Financial Literacy, Green and Clean Literacy, serta Alquran. Melalui visinya, mewujudkan keluarga Indonesia cerdas finansial, ramah lingkungan dan akhlak Islami, Bumi Inspirasi hadir sebagai komunitas yang melibatkan aspek ekonomi, lingkungan, dan spiritual menjadi satu. “Ketika kita memaknakan suatu itu baik, maka yg baik itu pula yg akan kita dapatkan,” ungkap salah satu perwakilannya.

Membuat karya itu, bagaimana pun, seharusnya dapat menjawab permasalahan yang dewasa kini sedang terjadi. Adi, sebagai pembicara ketiga, beserta Tim Cimol ITB menganggap maraknya berita hoax menjadi kegelisahan tersendiri karena dapat memecah belah masyarakat. Mengangkat dan menemukan inovasi teknologi yang tepat guna untuk isu tersebut, Tim Cimol ITB dapat mewakili Indonesia di kancah dunia mealui Microsoft Imagine Cup 2017. “Gagasan tidak datang secara utuh. Gagasan hanya jadi terang dan jelas ketika kita melakukannya,” ujar Adi di akhir perbincangan.

Menjadikan alam sebagai kelas, masyarakat sebagai dosen, dan Indonesia sebagai kampusnya, ialah prinsip yang dipegang oleh Eljihadi melalui proyek yang diusungnya sendiri, Ekspedisi Semester Alam. Sesuai istilahnya, kegiatan ini ialah ekspedisi selama satu semester untuk mengeskplor seluk beluk Indonesia. “Saya merasa saya akan belajar banyak dari alam,” ungkapnya. Mulai dari kehidupan di Mentawai, Indramayu, Pulau Rondo, Sebatik, Tana Toraja, dan masih banyak daerah pelosok lainnya, telah rampung dijelajahi. Melalui perjalanan tersebut, Eljihad mendapat pelajaran dari prinsip yang dianut masyarakat, yaitu untuk menata hidup dengan baik, manusia perlu kembali ke alam.

Rahmat Jabaril selaku penggagas Kampung Kreatif Dago Pojok, Komunitas Taboo, menjadi pembicara penutup dalam perbicangan di Sarikarya. Melalui seni, Rahmat dapat membuat pergerakan untuk menentang kekuasaan. “Bukan hanya bagaimana orang dapat berkreasi, tetapi juga tentang elaborasi dari semua ilmu pengetahuan. Dan seni rupa adalah dasar pengikatnya.” ungkap Rahmat.

Pada akhirnya, peran mahasiswa untuk berkontribusi secara nyatalah yang selalu dinanti oleh masyarakat. Semangat mengabdi dengan tulus, pemikiran yang kreatif juga inovatif, dan idealisme yang teguh menjadi senjata yang ampuh yang dapat membantu masyarakat dalam memberantas satu demi satu tantangan yang kian hari kian pelik.

Kementerian Relasi Karya dan Kemasyarakatan
Kemenkoan Wahana dan Inovasi
dan Kementrian Media dan Informasi
Kemenkoan Komunikasi dan Informasi
Kabinet Suarasa
KM ITB 2017/2018

#SUARASA
#SuarkanAsaSuakanRasa

Sebarkan!