rebudaya

Bandung, itb.ac.id – Angklung yang merupakan alat musik tradisional asal Jawa Barat ini adalah salah satu warisan budaya lisan dan nonbendawi Manusia khas Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO. Alat musik bernada ganda atau multitonal ini pertama kali tercatat sejarahnya pada sekitar abad ke-12 sampai abad ke-16, pada saat kerajaan Sunda berdiri. Pada awalnya, angklung dialunkan atas dasar kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan.

Sayangnya angklung yang alunannya sangat indah dan menentramkan hati ini pernah diklaim Malaysia. Bagaimana bisa? Bahkan tidak hanya angklung yang pernah diklaim Malaysia sebagai budaya mereka, misalnya lagu Rasa Sayange dan reog. Yang perlu kita pertanyakan adalah mengapa dan bagaimana bisa Malaysia mengklaim angklung, tapi bagaimana dan mengapa masyarakat Indonesia bisa membiarkan hal ini terjadi. Apa saja yang dilakukan masyarakat Indonesia sehingga kebudayaannya sendiri bisa direbut negara lain? Hal ini harus menjadi cambukan sehingga masyarakat Indonesia bisa lebih mengenal dan ikut berpartisipasi dalam melestarikan budaya bangsa sendiri. Bagaimana cara memulainya? Rasa keingintahuan dan kepedulian adalah kunci awalnya.

Pengklaiman angklung oleh Malaysia bahkan mengagetkan bagi pihak Saung Angklung Udjo yang menjadi pusat pertunjukan, pusat kerajinan tangan dari bambu, serta workshop instrumen musik dari bambu. Saung Udjo yang dinamakan atas pendirinya sendiri yaitu Udjo Ngalagena (serta istrinya, Uum Sumiati) pada tahun 1966 ini memang bertujuan untuk melestarikan dan menjaga seni dan kebudayaan Sunda. Bapak Udjo Ngalagena sadar bahwa melestarikan budaya Sunda sangat penting. Beliau sudah ikut berkontribusi sehingga saung tercintanya ini tidak hanya menampilkan angklung di Jalan Padasuka 118 Bandung Timur (lokasi Saung Mang Udjo), tetapi juga di Eropa dan benua lainnya.

Sebagai mahasiswa, potensi untuk mengembangkan angklung ini sangat besar. Potensi mahasiswa tidak hanya menjadi pemain angklung yang baik, tapi juga mengaransemen lagu yang akan dibawakan dengan angklung. Sekarang, sudah banyak lagu Sunda yang diaransemen ke berbagai genre, atau bahkan lagu non-Sunda yang dibawakan dengan nuansa Sunda. Selain melestarikan budaya, mahasiswa juga bisa sekaligus melatih kemampuan mengaransemen lagu, bahkan mengomposisi lagu. Hal ini juga bisa menjadi tantangan bagi mahasiswa, bagaimana mahasiswa berkarya di waktu luangnya. Sebagai mahasiswa, kita yang menjadi harapan penerus bangsa serta yang dipercaya memiliki ilmu tinggi, tentunya ikut bertanggungjawab dan berperan dalam memajukan kepedulian masyarakat terhadap budaya.

Agar masyarakat lebih melek terhadap budaya, terutama angklung, mahasiswa bisa menyebarluaskan informasi secara efektif dan menarik melalui event-event besar bertema budaya, misalkan budaya Jawa Barat. Dengan mengumpulkan massa yang besar, informasi mengenai budaya dapat tersampaikan dengan lebih baik karena dibungkus dengan cara yang unik. Contohnya adalah penampilan angklung yang dikolaborasi dengan instrumen lain serta penyanyi solo yang menyinden atau membawakan lagu Sunda. Selain itu, bentuk penyampaian lainnya adalah pameran serta kelas-kelas sederhana yang mengajarkan ilmu mengenai angklung. Mulai dari asal-usulnya, cara pembuatannya, bahkan cara memainkannya sambil membawakan lagu agar masyarakat lebih bersemangat.

Apakah kalian pernah mendengar istilah “ Ask not what your country can do for you; ask what you can do for your country”? Kalimat tersebut adalah milik John F. Kennedy. Jangan bertanya mengapa pemerintah tidak mempertahankan budaya tapi tanyakan kepada diri sendiri apakah kalian sudah menjaga budaya bangsa? Jangan menuduh pemerintah yang diam tapi tanyakan apa yang sudah kita lakukan? Dengan merefleksi diri, kita akan menyadari bahwa sebenarnya tiap individu bertanggungjawab dalam melestarikan budaya. Tiap individu berhak dan wajib berkontribusi bagi bangsanya karena memang itulah perannya sebagai warga negara. Kalau bukan kita yang menjaga, maka siapa lagi?

Angklung merupakan alat musik tradisional asal Jawa Barat yang menjadi ikon masyarakat Sunda. Sayangnya, angklung pernah diklaim Malaysia sebagai warisan budaya milik mereka. Seharusnya hal ini menjadi cambukan bagi masyarakat Indonesia terutama masyarakat Jawa Barat. Rasa keingintahuan serta kepedulian merupakan kunci agar bisa memulai upaya berkontribusi dalam melestarikan angklung. Upaya tersebut bisa berupa mengadakan event bertema budaya, mengadakan pameran serta kelas sederhana, membuat perlombaan, menyebarluaskan informasi melalui media sosial, dan sebagainya. Sebagai mahasiswa, potensi berkarya dalam bidang seni tradisional sangat besar dan kemampuan mahasiswa bisa berkembang di sini. Peran mahasiswa sangat penting karena tanggungjawab yang dimiliki sebagai penerus generasi. Tantangan bagi mahasiswa selain berlomba-lomba dalam berkarya adalah bagaimana cara membungkus dan menyajikan budaya tersebut sehingga masyarakat bisa lebih tertarik dan penasaran.

 

Referensi:

http://news.liputan6.com/read/149842/malaysia-quotmerebutquot-kekayaan-indonesia

 

Penulis: Hanifa Zainnafsia (19916148)

Sebarkan!