Warta Budaya: Berkepribadian dalam Kebudayaan melalui “Raboedaya”

Rabudaya

Bandung,itb.ac.id – Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata “Raboedaya”? Apakah pikiran Anda langsung teringat dengan memakai batik di hari Rabu? Jika iya, Anda tidak salah tetapi sebenarnya makna gerakan “Raboedaya” lebih luas dari hal tersebut. Gerakan “Raboedaya” dimaksudkan untuk membiasakan Kita agar berbudaya dalam kehidupan sehari-hari. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan berbudaya? Maksudnya adalah mau dan bisa untuk menerapkan nilai budaya dalam tingkah laku Kita sehari-hari. Banyak cara yang bisa Kita lakukan untuk berbudaya, yaitu dengan memakai sandang nusantara, berbahasa daerah, memakan kuliner nusantara, memperkaya ilmu pengetahuan mengenai budaya bangsa, ataupun berperilaku sesuai dengan norma dan nilai budaya. Masih terdapat banyak cara lainnya yang dapat Kita lakukan untuk berbudaya. Dengan demikian, bagaimana Kita berbudaya tergantung dengan bagaimana Kita memaknai hal tersebut.

Rab-1

Sesungguhnya gerakan “Raboedaya” di Institut Teknologi Bandung sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Akan tetapi, dahulu gerakannya bernama “Reboedaya”. Makna dari “Reboedaya” adalah kembali berbudaya sehingga diharapkan dengan gerakan tersebut Kita semua bisa kembali mengetahui, memahami, dan mencintai budaya bangsa Kita. Hari Rabu sengaja dipilih sebagai hari gerakan “Reboedaya” untuk sekaligus mendukung gerakan “Rebo Nyunda” yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota Bandung. Gerakan “Rebo Nyunda” bertujuan untuk melestarikan budaya Sunda. Cara yang paling umum dilakukan adalah dengan berbahasa sunda atau memakai ikat sunda di setiap “Rebo Nyunda”. Di Institut Teknologi Bandung, cara yang biasanya dilakukan untuk gerakan “Reboedaya” adalah dengan memakai batik. Kesamaan dari gerakan “Reboedaya” dan “Rebo Nyunda” adalah tujuannya, yaitu untuk melestarikan budaya Indonesia. Dengan demikian, diharapkan Kita semua bisa ikut serta mendukung gerakan “Rebo Nyunda” dan juga “Raboedaya” dengan berbudaya di setiap hari Rabu.

Saat ini, gerakan “Reboedaya” telah berganti nama menjadi “Raboedaya”. Pergantian nama tersebut karena gerakan “Reboedaya” sudah dianggap berhasil mengembalikan Kita untuk berbudaya sehingga saat ini “Raboedaya” lebih dimaksudkan untuk membiasakan berbudaya di setiap hari Rabu. Tujuan utama dari gerakan “Raboedaya” adalah agar Kita sebagai mahasiswa yang merupakan generasi penerus bangsa mau dan bisa untuk “Berkepribadian dalam Kebudayaan”. “Berkepribadian dalam Kebudayaan” yang merupakan Trisakti dari Soekarno dijadikan sebagai tujuan utama agar Kita bisa memiliki kepribadian yang menjunjung tinggi nilai luhur budaya bangsa Indonesia. Dengan “Berkepribadian dalam kebudayaan”, Kita diharapkan dapat mempertahankan jati diri sebagai bangsa Indonesia karena budaya adalah bagian dari peradaban bangsa yang telah berkembang dari zaman ke zaman.

Rab-2

Kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia seharusnya bangga terhadap budaya bangsa Kita sendiri. Budaya bangsa Indonesia perlu dijaga dan dilestarikan agar jati diri bangsa Indonesia bisa selalu dipertahankan. Bukan hanya jati diri bangsa Indonesia, melainkan juga jati diri Kita sebagai rakyat Indonesia. Manfaatnya akan mulai terasa dari dalam diri Kita masing-masing karena budaya merefleksikan bagaimana sikap Kita dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, mulailah untuk mau dan bisa mencintai budaya luhur bangsa Indonesia sebagai bagian dari kehidupan Kita. Mari bangga berakar budaya bangsa, mari bangga menjadi Indonesia.

Sebarkan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *