Warta Budaya: Pengaruh Modernisasi terhadap Kehidupan Suku Baduy

bADUY-1

Bandung, km.itb.ac.id – Indonesia merupakan negara yang kaya dengan sumber daya alam dan budaya. Berbagai macam suku dan budaya beserta dengan kekayaan alamnya hidup berdampingan di Indonesia. Negara kepulauan terbesar di dunia ini dihuni berbagai macam suku yang menetap di segala pelosok nusantara. Kearifan lokal beserta adat istiadatnya menjaga kelestarian alam Indonesia sehingga dapat terjaga dengan baik dan bersinergi dengan alam.

Suku Baduy merupakan salah satu diantara banyaknya suku yang ada di Indonesia. Suku etnis Sunda ini hidup bersama alam di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

Suku Baduy terbagi dalam dua golongan yang disebut dengan Baduy Dalam dan Baduy Luar. Perbedaan yang paling mendasar dari kedua suku ini adalah dalam menjalankan pikukuh atau aturan adat saat pelaksanaannya. Jika Baduy Dalam masih memegang teguh adat dan menjalankan aturan adat dengan baik, sebaliknya tidak dengan saudaranya Baduy Luar.

Masyarakat Baduy Luar sudah terpengaruh oleh budaya modern. Penggunaan barang elektronik tertentu dan sabun diperkenankan oleh ketua adat yang disebut Jaro dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Selain itu, Suku Baduy Luar juga menerima tamu yang berasal dari luar Indonesia, mereka diperbolehkan mengunjungi hingga menginap di salah satu rumah warga Suku Baduy Luar.

Mata pencaharian mayarakat Suku Baduy umumnya berladang dan bertani. Alamnya yang subur dan berlimpah mempermudah suku ini dalam menghasilkan kebutuhan sehari-hari. Hasil berupa kopi, padi, dan umbi-umbian menjadi komoditas yang paling sering ditanam oleh masyarakat Baduy. Masyarakat Baduy secara rutin melaksanakan “Seba” yang masih rutin diadakan setahun sekali dengan mengantarkan hasil bumi (bertani dan berladang) kepada pemimpin daerah yaitu Gubernur Banten. Diharapkan dapat terciptanya interaksi yang erat antara masyarakat Baduy dan penduduk luar dari upacara “Seba”.

Ketika pekerjaan mereka diladang tidak mencukupi, orang Baduy biasanya berkelana ke kota besar sekitar wilayah Suku Baduy dengan berjalan kaki untuk menjual hasil produksi mereka, seperti madu dan kerajinan tangan. Perdagangan yang semula hanya dilakukan dengan barter kini sudah menggunakan mata uang rupiah.

Wilayah Suku Baduy telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah daerah Lebak pada tahun 1990. Kawasan yang melintas dari Desa Ciboleger hingga Rangkasbitung ini telah menjadi tempat bermukimnya Suku Baduy yang menjadi suku asli Provinsi Banten.

Berhubungan dengan kebudayaan Suku Baduy beserta adat istiadatnya, kearifan lokal yang dimiliki oleh Suku Baduy kini mulai terancam oleh modernisasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, modernisasi adalah proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk dapat hidup sesuai dengan tuntutan masa kini. Perkembangan zaman dan globalisasi menjadi faktor utama penyebab munculnya modernisasi.

Kesadaran akan nilai dan norma sosial yang dianut Suku Baduy dalam setiap keluarga pun semakin memudar dengan munculnya teknologi modern. Sebagai contoh, masyarakat baduy luar kini mulai menggunakan sabun mandi dan sabun cuci dalam kesehariannya. Padahal dahulu penggunaan sabun atau bahan kimia lainnya tidak diperbolehkan dalam adat istiadat Suku Baduy. Walaupun Suku Baduy masih memegang teguh budaya “berjalan kaki”, tetapi penggunaan teknologi modern dalam kehidupan sehari-hari yang telah memasuki masyarakat masyarakat Baduy Luar dapat mengancam eksistensi adat istiadat Suku Baduy.

Perubahan yang dialami Suku Baduy tidak lepas dari pengawasan pemuka adat yang selalu berusaha mengembalikan kehidupan masyarakat agar sesuai dengan pikukuh. Peralihan yang dilakukan oleh beberapa anggota keluarga pada masyarakat seperti mulainya penggunaan obat, sabun, ataupun radio menunjukkan adanya keraguan dalam masyarakat Suku Baduy mengenai cara hidup yang sudah berlaku berdasarkan adat. Akulturasi budaya dalam masyarakat Suku Baduy tampaknya telah beralih menjadi tahap asimilasi. Dapat disimpulkan bahwa perubahan-perubahan yang terjadi pada Suku Baduy berlangsung menurut proses adaptasi dalam jangka waktu yang sangat panjang (relatif lama).

 

Referensi:

Garna Y. 1993. Masyarakat Baduy di Banten, dalam Masyarakat Terasing di Indonesia. Jakarta: Departemen Sosial dan Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial dengan Gramedia Pustaka Utama.

https://www.indonesiakaya.com/index.php/jelajah-indonesia/detail/suku-baduy-bersinergi-dengan-alam-menjaga-aturan-adat

Sebarkan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *