Beny Santoso, seorang pemuda asal Solo yang merupakan lulusan salah satu universitas di Bali. Berawal dari rasa penasarannya bagaimana tempe dapat diolah menjadi keju, beliau kemudian mengembangkan olahan tempe rasa keju tersebut dan mengangkatnya sebagai ciri khas dari brandnya. Terlebih lagi potensi Indonesia sebagai penghasil tempe terbesar di dunia. ‘Ini Tempe’ membutuhkan 37 ton tempe per tahunnya. Potensi kedelai ini sangat banyak tidak hanya tempe, namun ada tahu, susu kedelai, oncom, dan lain-lain

Dengan mengusung tagline #KitaBangsaTempe beliau membangun stagmen agar generasi pemuda tidak malu bahwa bangsa kita memang memproduksi tempe. Sebagai makanan tradisional yang khas dari Indonesia harusnya kita bangga terhadap tempe.

Ketika kuliah, ada project yang mengharuskan observasi sehingga beliau memilih untuk mengunjungi tempat produksi tempe. Dari sana baru diketahui bahwa tempe masih diproduksi secara tradisional menggunakan kaki dan terkesan jorok. Sehingga muncullah pemikiran bagaimana agar produksi tempe ini menjadi lebih higienis sehingga dapat dijual ke luar.

Sebenarnya proses pembuatannya sama hanya packagingnya yang berbeda. Ternyata proses pembuatan tempe dengan plastik lebih cepat daripada dengan daun. Hal ini dikarenakan daun memiliki stomata sehingga rongga-rongga nya kemasukan oksigen sehingga fermentasi lebih lambat. Namun ada juga benefitnya, tempe yang dibungkus daun setelah lebih dari dua bulan 7 kali lebih baik dari yang dibungkus plastik. Jadi yang menggunakan plastik destruktifnya justru lebih tinggi.

Beliau juga membagikan cara membuat tempe pada orang luar yang merasa harga tempe di luar Indonesia berkali lipat lebih mahal. Hingga mendalami buku-buku yang membahas mengenai tempe.

Diet tempe juga menjadi salah satu program yang menarik karena ternyata protein yang dihasilkan dari tempe setara dengan daging. Kandungan nutrisi dalam tempe juga tidak ada kolestrolnya. Baik juga untuk melancarkan perncernaan. Sehingga cocok untuk anak kos yang ingin diet. Selain itu untuk memproduksi tempe hanya dalam sehari sudah jadi sedangkan daging butuh waktu empat tahun hingga dapat dikonsumsi. Dalam artian energi yang digunakan dala proses produksi tempe jauh lebih kecil dibandingkan daging. 

Beliau juga bereksperimen dengan membuat masker tempe. Dari tempe yang masih fresh dihaluskan lalu dicampurkan dengan sedikit air hangat. Ternyata hasilnya kulit menjadi kenyal.

Selain mendukung kedelai lokal yang lebih gurih, eksperimen lainnya pun juga dilakukan seperti membuat tempe dari melinjo. Jadi, tempe tidak melulu hanya dari kedelai. Percobaan dengan memakai kacang lokal bali, kacang hijau, bahkan campuran spirulina pun ternyata juga berhasil.

Penulis: Laila Quthratun Nada

Narasumber: Benny Santoso, Founder “Ini Tempe”


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *